Konsumsi Investasi Dan Pendapatan Nasional

Pada bab ini akan dibahas mengenai keseimbangan pendapatan nasional yang ditentukan oleh tingkat pengeluaran agregat dari pendekatan Keynesian yang paling sederhana. Pendekatan pengeluaran negara ini dilihat dari instrumen tingkat konsumsi dan investasi. 

Bab ini akan menerangkan penentuan kegiatan ekonomi dalam perekonomian dua sektor yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan. Ini berarti dalam perekonomian diasumsikan tidak terdapat kegiatan pemerintah dan perdagangan luar negeri. 

Fungsi Konsumsi Dan Fungsi Tabungan 

Dalam analisa makroekonomi yang lebih penting bukanlah melihat konsumsi dan tabungan suatu rumah tangga tetapi tingkat konsumsi dan tabungan semua rumah tangga dalam suatu perekonomian. Pengeluaran konsumsi dari semua rumah tangga ini dinamakan pengeluaran agregat dan tabungan semua rumah tangga dinamakan tabungan agregat. 

Untuk menunjukkan perilaku tingkat konsumsi dan tabungan rumah tangga dalam perekonomian maka dalam analisis makroekonomi selalu melihat menghubungkan kedua variabel tersebut dengan pendapatan nasional. Seorang ahli ilmu ekonomi, Keynes, berpendapat bahwa pengeluaran seseorang untuk konsumsi dan tabungan dipengaruhi oleh pendapatannya. 

Pada pendapatan yang rendah, rumah tangga akan mengambil tabungannya untuk membiayai pengeluaran untuk konsumsi. Seringkali pertambahan pendapatan lebih tinggi daripada pertambahan konsumsi, sehingga pada akhirnya rumah tangga tidak mengambil tabungannya lagi. Bahkan ia mampu menabung sebagian dari pendapatannya. 

Perbandingan antara pertambahan konsumsi yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposibel yang diperoleh disebut kecenderungan mengkonsumsi marjinal (MPC = Marginal Propensity to Consume). Perbandingan antara pertambahan tabungan ( AS) dengan pertambahan pendapatan disposibel (3,17d) yang diperoleh disebut kecenderungan menabung marjinal (MPS = Marginal Propensity to Save). 

Secara matematis, hal ini dapat ditulis dengan: Sementara itu, pendapatan disposibel sama dengan konsumsi seseorang ditambah dengan tabungannya sehingga fungsi pendapatan dapat dinyatakan sebagai berikut. 

Dari persamaan tersebut di atas dapat dijelaskan pengertian fungsi konsumsi dan tabungan sebagai berikut. 

  1. Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposibel) perekonomian tersebut.
  2. Fungsi tabungan adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat tabungan rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposibel) perekonomian tersebut.
  3. Fungsi konsumsi: C= a + bYd Fungsi tabungan: Yd = C + S Yd = (a + bYd) + S S a + (1 — b) Y di mana: konsumsi rumah tangga secara nasional pada saat pendapatan nasional sama dengan nol (0) b = kecondongan konsumsi marjinal (MPC) tingkat konsumsi S = tingkat tabungan y= tingkat pendapatan nasional.

Grafik untuk contoh ini digambarkan dalam Peraga 9.1. Dari peraga terseburdapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

  • Pada titik E, tingkat pendapatan nasional sama dengan tingkat konsumsi yaitu sebesar 40 Pada titik B pendapatan nasional bernilai 80 sementara nilai konsumsi 70. Dengan demikian, pergerakan dari titik E ke B membuat pendapatan nasional bertambah 40 dan konsumsi rumah tangga bertambah 30. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kecondongan fungsi konsumsi(MPC) adalah —30 = 0,75. 40 .
  • Titik D menggambarkan tingkat tabungan adalah nol (S = 0) apabila pendapatan nasional sebesar 40. Kemudian, titik A menggambarkan tabungan sebesar 10 bila pendapatan nasional 80. Dengan demikian, pergerakan dari titik D ke A menggam-barkan pendapatan nasional bertambah 40 dan tabungan bertambah 10. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kecondongan fungsi tabungan (MPS) adalah —10 - 0,25. Berarti 40 MPC + MPS = 1.
Konsumsi Investasi Dan Pendapatan Nasional

 
Dari Tabel 9.1 dan Peraga 9.2 dapat dijelaskan beberapa ciri fungsi konsumsi dan tabungan sebagai berikut. 

a. Pada tingkat pendapatan nasional sama dengan 0, konsumsi rumah tangga sejumlah Rp 90 triliun dan tabungan Rp 90 triliun. 

b. Tabel 9.1 menunjukkan bahwa MPC = 0,75 atau (90/120) dan MPS = 0,25 atau (30/120) artinya setiap pertambahan pendapat-an nasional sebanyak Rp 120 triliun akan menambah konsumsi sebanyak Rp 90 triliun (MPC x pertambahan pendapatan nasional) dan tabungan sebanyak Rp 30 triliun (MPS x pertambahan pendapatan nasional). 

Nilai MPC dan MPS tersebut akan menentukan tingkat kecondongan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. Fungsi konsumsi dan tabungan merupakan garis lurus dan ini disebabkan karena nilai MPC dan MPS adalah tetap. Seterusnya kecondongan fungsi konsumsi adalah kurang dari 45° dan selalu memotong garis 45°. Sifat ini disebabkan karena MPC lebih kecil dari satu. 

c. Fungsi konsumsi memotong garis 45° pada nilai pendapatan nasional sebesar Rp 360 triliun karena pada tingkat pendapatan itu konsumsi rumah tangga sama dengan pendapatan nasional (lihat Tabel 9.1). Fungsi tabungan memotong sumbu datar pada pendapatan nasional sebanyak Rp 360 triliun karena pada pendapatan ini tabungan rumah tangga sama dengan 0 (lihat Tabel 9.1). 




Daftar Pustaka: PT. Phibeta Aneka Gama