Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Orde Baru

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G-30-S /PKI) menjadi pertanda akan terjadi pergantian pemerintahan dari demokrasi terpimpin, dengan Soekarno sebagai presiden, ke Orde Baru oleh Soeharto. PKI sebagai dalang G-30-S /1965 setidaknya-tidaknya bersumber dari dua buah buku, yaitu The Coup Attempt of the September 30 Movement in Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, serta The Communist Collapse in indonesia oleh Arnold Brackman.

Pada tahun 1994, Sekretariat Negara Republik Indonesia mengeluarkan Buku Putih Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Dalam sumber-sumber itu disebutkan bahwa terjadinya G-30-S / PKI, para pelakunya digerakkan oleh Biro Khusus PKI yang dipimpin oleh Sjam Kamaruzaman untuk menumpas kelompok penentangnya.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965/PKI

Sejak kegagalannya di Madiun, PKI lebih banyak bergerak di bawah tanah. Namun, sejak tahun 1950, PKI mulai muncul lagi dan ikut serta dalam kancah kehidupan politik. PKI saat itu merencanakan hendak mengambil alih kekuasaan negara melalui jalan parlementer, terutama pada zaman Demokrasi Terpimpin.

Memasuki awal tahun 1964 hingga tahun 1965, PKI semakin agresif. Pimpinan partai melalui rapat-rapat umum melancarkan propaganda yang bersifat menghasut dan memusuhi lawan-lawan politiknya. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai lawan dikutuk dan diserang dengan menggambarkan mereka sebagai setan desa, setan kota, kapitalis birokrat, kontra revolusi, agen nekolim, dan sebagadirinya.

Mereka harus dibunuh dan dibasmi hingga akar-akarnya. Propaganda-propaganda yang dilancarkan oleh PKI saat itu bukan hanya semboyan belaka, tetapi disertai dengan tindakan-tindakan nyata di beberapa daerah. Kaum buruh dan tani dihasut untuk menyerobot tanah-tanah rakyat dengan alasan landreform.

Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Orde Baru

Tindakan-tindakan PKI ini telah mengakibatkan jatuhnya korban dari anggota-anggota keamanan, kaum ulama di pesantren-pesantren, dan sebagainya. Cara kekerasan yang dilakukan PKI itu merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuannya. 

Selain itu, PKI membentuk blok-blok dalam tubuh Angkatan Bersenjata melalui Biro Khusus yang bertugas merancang dan merencanakan pengambilalihan kekuasaan. PKI mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh ABRI untuk pembinaan terhadap perwira-perwira ABRI dari Panglima sampai Staf Komando Resort Militer (Korem), bahkan Distrik Militer (Kodim). Mereka yang sulit dipengaruhi dan dibina didaftarkan sebagai lawan yang bila tiba waktunya nanti akan dibunuh.


Daftar Pustaka: Yudhistira