Pengaruh Iklim terhadap Kehidupan Manusia

Iklim merupakan salah satu faktor yang membentuk dan menentukan tinggi rendahnya kebudayaan manusia, bahkan merupakan kunci peradaban atau kebudayaan penduduk. Hal ini dapat dipahami mengingat beberapa hal: 
  1. Manusia akan mencari tempat tinggal di daerah yang iklimnya baik. Misalnya di daerah sedang, tidak terlalu panas atau tidak terlalu dingin, dan di daerah yang banyak airnya.
  2. Daerah yang sangat dingin, daerah yang sangat panas, atau kering merupakan daerah yang memengaruhi dan membatasi bidang-bidang pertanian. Namun karena keterbatasan tersebut dapat memacu kreativitas dan inovasi sehingga menghasilkan teknologi tinggi.  Contoh: negara-negara Eropa dan Jepang.
  3. Daerah yang mempunyai temperatur panas dapat melemahican energi. aktivitas kerja fisik, dan rohani. Contoh: negara-negara Afrika.
  4. Usaha budi daya manusia di bidang industri banyak berhubungan dengan iklim, terlebih yang bersifat biotik. Contoh: pembuatan pakaian di daerah dingin.
  5. Perubahan iiclim berpengaruh terhadap kesehatan manusia, misalnya penyakit yang disebarkan nyamuk (seperti penyakit malaria dan penyakit demam berdarah) terjadi pada musim penghujan dan di daerah yang tanahnya becek, serta penyakit muntaber yang terjadi pada musim panas yang banyak hujan. 

Pola Curah Hujan di Indonesia 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di khatulistiwa, memiliki laut yang luas dan suhu yang tinggi. Oleh karena itu, tingkat penguapan sangat banyak sehingga kelembapan udara selalu tinggi. Kelembapan udara yang tinggi menyebabkan curah hujan yang tinggi pula. Secara spesifik, banyaknya curah hujan di tiap-tiap daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
  1. Letak daerah konvergensi antartropik.
  2. Bentuk medan dan arah lereng medan.
  3. Arah angin yang sejajar dengan pantai.
  4. Jarak perjalanan angin di atas medan datar.
  5. Posisi geografis daerahnya.

Rata-rata curah hujan di Indonesia tergolong tinggi, yaitu lebih dari 2.000 mm/tahun. Daerah yang paling tinggi curah hujannya adalah daerah Baturaden di lereng gunung Slamet, dengan curah hujan rata-rata ±589 mm/bulan. Angin yang berasal dari daerah perairan menuju ke daratan umumnya dapat menimbulkan hujan.

Apabila dataran yang dilewati angin itu lebar dan sifat permukaannya tidak berubah, maka pada kawasan sekitar pantai kemungkinan akan terjadi hujan, tetapi di daerah pedalaman tidak hujan. Hujan kemungkinan akan turun lagi jika medannya mulai naik. Peristiwa tersebut sering terjadi di kawasan Jakarta, Cibinong, dan Bogor.

Pada bulan Januari-Februari hujan turun di Jakarta dan Bogor, sedangkan di Cibinong udara cerah. Sebaliknya, pada bulan di Jakarta dan Bogor cerah, sedangkan di Cibinong terjadi hujan. Adapun pola umum curah hujan di Indonesia adalah sebagai berikut.

Pantai barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak dari pantai timur. Hal ini nampak jelas terutama pada pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Contohnya: curah hujan pulau Jawa nampak lebih besar di Jawa Barat dibandingkan dengan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan seterusnya. Semakin ke arah timur, curah hujannya semakin sedikit. 

Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT merupakan barisan pulau-pulau yang panjang dan berderet dari barat ke timur. Pulau-pulau ini hanya diselingi oleh selat-selat yang sempit, sehingga nampak secara keseluruhan seperti satu pulau. Karena itu, berlaku dalil bahwa sebelah timur curah hujan lebih kecil dibanding sebelah barat. 

Selain bertambah jumlahnya dari timur ke barat, curah hujan juga bertambah dari dataran rendah ke pegunungan, dengan jumlah terbesar pada ketinggian 600-900 meter di atas permukaan laut. Di daerah pedalaman semua pulau, musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT).

Saat mulai turunnya hujan juga bergeser dari barat ke timur. Pantai barat pulau Sumatera sampai Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November; Lampung-Bangka yang letaknya sedikit ke timur mendapat curah hujan terbanyak pada bulan Desember. Sementara itu, Jawa, Bali, NTB, NTT pada bulan Januari dan Februari.
 
Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah mempunyai musim hujan yang berbeda, yaitu Mei Juni. Pada saat itu bagian lain dari kepulauan Indonesia sedang musim kemarau.

Dampak Positif dan Negatif Iklim


Pengaruh Iklirn terhadap Kehidupan Manusia
A. Dampak Positif

Tidak dapat diragukan lagi bahwa keberadaan atmosfer terhadap kehidupan di muka bumi sangat bermanfaat bahkan bisa dibayangkan jika bumi tanpa atmosfer, maka berbagai kehidupan akan terancam punah. Di antara manfaat atmosfer bagi kehidupan adalah sebagai berikut.
  • Untuk kelangsungan kehidupan, baik manusia ataupun makhluk lain. Atmosfer atau udara merupakan unsur yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Oksigen dibutuhkan untuk pernapasan makhluk (manusia dan hewan), sementara tumbuhan membutuhkan karbon dioksida untuk melakukan proses fotosintesis sehingga dapat dibayangkan jika bumi tanpa udara, maka seluruh kehidupan akan bangkrut.
  • Sebagai sarana untuk terjadinya proses-proses alam, seperti hujan dan awan. Atmosfer merupakan sarana terjadinya hujan. Peran atmosfer terletak pada proses penguapan, pembentukan awan, dan proses kelembapan udara yang kemudian akan menghasilkan hujan. Hujan merupakan fenomena alam yang menjadi faktor pendukung terhadap tumbuhnya kehidupan. Hujan sebagai bagian dari sildus hidrologi akan sangat berperan bagi kehidupan.
  • Atmosfer merupakan media komunikasi. Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan, tanpa sarana komunikasi, maka proses pem-bangunan pun akan terhambat.
  • Atmosfer sebagai pelindung bumi dari berbagai gangguan benda angkasa dan radiasi matahari yang berlebihan sehingga aman dan nyaman bagi makhluk hidup yang ada di bumi. 

B. Dampak Negatif 

Jika diperhatikan dengan seksama, keberadaan atmosfer di alam ini mutlak sepenuhnya mengandung manfaat yang tak terhingga bagi kehidupan seluruh makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, jika kondisi alamiah atmosfer itu sudah terganggu, maka manfaat akan berubah menjadi bencana. Misalnya, terjadinya polusi atau pencemaran udara yang akan menimbulkan berbagai bencana berupa penyakit, hujan asam, hujan yang berpotensi menyebabkan banjir, dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka : PT. Bumi Aksara