Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS)

Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah wilayah tangkapan air hujan yang berfungsi menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan ke dalam suatu sistem jaringan sungai. Dalam bahasa Inggris DAS kadang-kadang disebut catchment area, atau river basin atau watershed. Setiap DAS dibatasi oleh punggung dan di sebelah dalamnya terdapat sistem jaringan sungai, mulai dari sungai induk sampai dengan anak-anak sungainya. Oleh karena itu, setiap DAS tidak terlepas dari adanya pola aliran sungai.

A. DAS dan Rata-rata Curah Hujan

Ditinjau dari luasnya, DAS dapat dibagi menjadi dua yaitu DAS luas dan DAS sempit:
  • DAS luas, yakni DAS yang memiliki daerah tangkapan hujan yang luas. DAS semacam ini terdapat pada sungai-sungai besar, seperti sungai Barito dan Bengawan Solo.
  • DAS sempit, yakni DAS yang memiliki daerah tangkapan hujan yang sempit. DAS seperti ini terdapat pada sungai-sungai kecil seperti sungai Bekasi.
 
Metode untuk menghitung ratar-rata curah hujan di suatu DAS, dapat dilakukan melalui tiga cara, antara lain sebagai berikut:

  • Metode Aritmatik, caranya dengan menjumlahkan rata-rata curah hujan harian setiap stasiun, kemudian dibagi dengan jumlah stasiun yang ada di DAS.
  • Metode Poligon Thiessen, digunakan pada daerah yang stasiun hujannya tidak merata.
  • Metode Isohyet, merupakan metode untuk menghitung rata-rata curah hujan dengan membuat garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai curah hujan yang sama. Metode isohyet baik digunakan pada DAS yang memanjang. Metode ini paling teliti dibandingkan dengan dua metode di atas.

B. Penyebab dan dampak banjir serta usaha-usaha mengurangi risiko banjir 

1. Penyebab banjir 
Ada beberapa penyebab terjadinya banjir, antara lain sebagai berikut:
  • Penebangan hutan yang tak terkendali oleh masyarakat maupun perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak di bidang Hak Peng-usahaan Hutan (HPH) dapat menyebabkan terjadinya penggun-dulan lahan di daerah aliran sungai (DAS). Kondisi ini menyebabkan terjadinya banjir karena tumbuh-tumbuhan yang tadinya dapat berfungsi sebagai reservoir air, menjadi hilang fungsinya. Contoh: Wilayah proyek sejuta hektar di Kalimantan Tengah yang tadinya tertutup hutan, kini sudah gundul.
  • Tersumbatnya sungai akibat banyaknya sampah atau adanya sedimentasi. Contoh: sungai-sungai di wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi (JABODETABEK).
  • Gempa bumi yang berakibat tsunami. Contoh: Aceh pada akhir Desember tahun 2004.
  • Permukiman di sekitar bantaran sungai dapat mempersempit aliran sungai dan bisa mengakibatkan terjadinya banjir. Kondisi ini terjadi di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Sema-rang, dan sebagainya.
  • Peladangan berpindah karena masyarakat membakar semak-semak atau pohon-pohon yang mengakibatkan air hujan langsung mengalir di permukaan tanah.
  • Adanya longsoran tanah yang berakibat aliran sungai tertutup. Kondisi ini menyebabkan air sungai meluap ke daerah sekitarnya
 
2. Dampak banjir
Dampak banjir terhadap kehidupan manusia adalah sebagai berikut:
  • Rusaknya bangunan serta fasilitas-fasilitas permukiman lainnya, seperti perumahan penduduk, prasarana jalan dan jembatan, saluran dan drainase, dan sebagainya.
  • Adanya korban jiwa bagi penduduk di sekitar kejadian yang tidak bisa dielakkan. Contoh korban tsunami dan korban banjir bandang di Aceh yang terjadi baru-baru ini (2004 dan 2005). Di Aceh korban tsunami mencapai ± 250.000 jiwa.
  • Transportasi terganggu akibat jalan-jalan terendam air. Kondisi ini berakibat terganggunya mobilitas penduduk karena kendaraan darat tidak dapat melewati kawasan yang dilanda banjir.
  • Rusaknya tanaman dan matinya hewan-hewan ternak. Tanaman-tanaman seperti padi dan palawija yang terendam air otomatis rusak sehingga tidak bisa dipanen petani. Demikian pula hewan-hewan ternak yang dipelihara penduduk bisa mati akibat terendam air.
  • Timbulnya berbagai penyakit seperti gatal-gatal, diare, kolera, dan sebagainya yang mengancam kesehatan penduduk karena aliran banjir merupakan air yang kotor dan mengandung bibit penyakit.
  • Kegiatan rutin masyarakat banyak terganggu karena tidak bisa bebas bepergian.
  • Kebutuhan air bersih sulit diperoleh karena tanah terendam air sehingga air sumur terendam air kotor. 
  • Lahan-lahan subur bisa menjadi lahan kritis karena terhanyutnya humus atau tertutupnya lahan subur dengan lumpur.


Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS)

Untuk mengurangi risiko banjir, ada beberapa usaha yang perlu dilakukan, antara lain sebagai berikut:

  • Melakukan reboisasi terhadap hulu daerah aliran sungai (DAS). Lahan-lahan yang gundul di hulu sungai perlu dilakukan penghijauan kembali agar air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dapat tertahan oleh daun-daun dan perakaran pohon.
  • Melarang masyarakat menebang pohon (hutan) di hulu dan daerah aliran sungai. Hal ini memerlukan pengaturan dan ketegasan terhadap peraturan yang dibuat pemerintah. Misalnya, di kawasan Puncak, Jawa Barat.
  • Melara'ng penduduk untuk membuang sampah di wilayah alur sungai. Kondisi ini juga memerlukan pengaturan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat dan ketegasan untuk menegakkan aturan bagi pelanggarnya. Misalnya, di daerah bantaran sungai Ciliwung.
  • Membangun bangunan-bangunan penahan banjir di wilayah sungai seperti bendungan, bangunan penahan sedimen, seperti di wilayah sungai Ciliwung.
  • Melarang penduduk untuk mendirikan bangunan di wilayah bantaran sungai karena bantaran sungai berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis kehidupan liar dan secara ekologis berperan sebagai penyeimbang laju pertumbuhan wilayah.
  • Membuat peraturan mengenai fungsi lahan, sehingga penduduk atau pengusaha tidak seenaknya mendirikan bangunan pada tempat-tempat yang bukan seharusnya difungsikan untuk bangunan atau perumahan.
  • Membuat rencana induk (master plan) pengembangan kawasan DAS.
  • Menertibkan penduduk yang mempunyai peladangan berpindah.


Daftar Pustaka: Bumi Aksara