Peranan Pers Dalam Membangun Nasionalisme Indonesia

Pers yang dimaksud di sini adalah usaha penerbitan dan percetakan surat kabar. Dari surat kabar atau koran itu berbagai macam pendapat, pemikiran, dan propaganda dapat disebarluaskan ke tengah masyarakat. 

Perkembangan Pers pada Masa Kolonial Belanda 

Sejarah perkembangan pers di Indonesia dimulai dengan terbitnya surat kabar Belanda, Bataaviaasch Nouvelles yang terbit di Batavia (Jakarta) pada tahun 1744. Surat kabar tersebut terbit dalam bahasa Belanda. Pada tahun 1746, surat kabar tersebut ditutup. Surat kabar Belanda berikutnya yang terbit adalah Bataviassche Courant (1817), Bataviassche Handelsblad (1829), Soerabajasche Courant (1813), Semarangsche Advertentieblad. Penerbit surat kabar tersebut sudah ada yang menggunakan tenaga pribumi sehingga mereka terdidik dan terlatih dalam pekerjaan pers. Mereka itulah nantinya yang menjadi pemimpin pers sekaligus tokoh Pergerakan Nasional.

Sejak tahun 1850, di berbagai kota di Indonesia mulai diterbitkan beberapa surat kabar, seperti berikut:

1) Bintang Timoer, Tjahaja Moelia (Surabaya); 

2) Bromartani, Djawi Kanda (Surakarta); 

3) Retnodhoemilah (Yogyakarta); 

4) Sinar Djawa, Sinar Hindia (Semarang); 

5) Tjahaja Siang (Manado); 

6) Penghantar (Ambon); 

7) Mataharie (Makassar); 

8) Bianglala, Bintang Barat (Batavia); 

9) Dini Hari, Sinar Terang, Bintang Betawi, dan Bintang Johar (Batavia).

Pers mempunyai peranan penting dalam menjalankan pendidikan politik bagi kaum bumiputra. Pers memaparkan berbagai sistem politik dan kejadian besar di berbagai negara. Apa yang terjadi di panggung politik dunia mulai diketahui oleh rakyat Indonesia. Berita-berita tersebut menambah pengetahuan dan kesadaran politik pembaca. Hal ini akan membangkitkan kecenderungan untuk membandingkan situasi politik luar negeri dengan dalam negeri. Pada akhirnya muncul pemikiran dan pemandangan kritis terhadap lingkungan politik dalam negeri yang dalam segala hal masih didominasi oleh penguasa kolonial. 


Pers Membawa Suara Organisasi Politik pada Zaman Pergerakan Nasional 

Pertumbuhan pers nasional dan perjuangannya tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan Pergerakan Nasional. Hal itu disebabkan orang-orang yang menjadi pemimpin surat kabar, umumnya juga tokoh Pergerakan Nasional. Oleh karena itu, surat kabar yang mereka terbitkan jelas merupakan sarana komunikasi yang utama dalam menumbuhkan kesadaran nasional dan meluaskan kebangkitan nasional guna mencapai cita-cita perjuangan bangsa, yaitu kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. 

Sejak berdirinya Sarekat Islam, tampak adanya penerbitan surat kabar baru. Darmo Kondho merupakan surat kabar yang utama di Jawa. Surat kabar itu dimiliki oleh seorang keturunan Cina. Pada tahun 1910, surat kabar ini dibeli oleh Budi Utomo cabang Surakarta. Setelah itu, terbit surat kabar Oetoesan Hindia yang lahir setelah Sarekat Islam mengadakan kongres pertama di Surabaya tanggal 26 Januari 1913. Selama tiga belas tahun, isi Oetoesan Hindia mencerminkan dunia pergerakan, politik, ekonomi, dan perburuhan. Tokoh pergerakan yang menulis di surat kabar tersebut, antara lain Cokroaminoto, Abdul Muis, Haji Agus Salim, Cipto Mangunkusumo, Tirtodanudjo, dan Samsi. Surat kabar milik Sarekat Islam yang lain adalah Pantjaran Warta dan Saroetomo. 

Pada masa Pergerakan Nasional juga terbit surat kabar lain, seperti Tjahaja Timoer di Malang dan Kaoem Moeda di Bandung yang condong kepada Indische Partij. Para tokoh Indische Partij sebelum mendirikan organisasi sudah menerbitkan majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres. Kedua surat kabar tersebut sangat penting artinya dalam rangkaian perkembangan pers nasional dan pembentukan nasionalisme Indonesia. 

Ketika salah seorang dari tokoh Tiga Serangkai sebagai pemimpin Indische Partij diasingkan ke Nederland, dua di antaranya yang masih di Indonesia dapat menerbitkan dua majalah dalam bahasa Belanda. Cipto Mangunkusumo masih sempat menerbitkan majalah De Indier (1913-1914) dan R.M. Suwardi Suryaningrat menerbitkan majalah Hindia Poetra (1916). Dengan majalah itu, mereka berhasil mempertahankan arah perjuangannya. 

PKI yang berdiri pada tahun 1920, juga tidak luput untuk menerbitkan surat kabar. PKI berusaha menggunakan surat kabar guna membangkitkan kegelisahan sosial. Lambat laun kelihatan juga pengaruh pers lokal yang dikendalikan oleh PKI pada tahun 1926. Lebih dari 20 penerbitan PKI tersebar di berbagai kota. 

Dalam perkembangannya, media pers yang membawakan suara nasionalisme kaum bumiputra ialah majalah para mahasiswa bumiputra di Nederland. Mereka mencantumkan kata Indonesia dalam kata pengantar nomor pertama majalah Indonesia Merdeka (IM) pada tahun 1924. Corak Indonesia Merdeka dengan segala artikelnya merupakan aksi untuk mencapai tujuan organisasi Perhimpunan Indonesia (PI), terutama untuk memperkuat cita-cita kesatuan kaum bumi putra.

Daftar Pustaka : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri