Kondisi Ekonomi di Awal Kemerdekaan Republik Indonesia

Pada awal berdirinya Republik Indonesia, keadaan ekonomi sangat kacau. Sistem ekonomi autarki yang dikembangkan Jepang memperburuk keadaan ekonomi bangsa Indonesia, ditambah lagi terjadi blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda.

Hiper inflasi menimpa Indonesia yang baru berumur beberapa bulan, sumber Inflasi ini adalah beredarnya mata uang rupiah Jepang secara tidak terkendali. Peredaran rnata uang itu diperkirakan mendekati angka 4 Miliar. Jumlah ini bertambah lagi ketika beberapa bank yang ada mengeluarkan beberapa cadangan uangnya guna untuk membiayai keuangan republik seperti menggaji para pegawai dan biaya operasional perjuangan.
In the earlier period of the founding of Republic of Indonesia, the condition of economics was very complicated. The autarchy economic system which is developed by Japanese worsened the Indonesian nation economics, moreover the economic blockade performed by the Dutch happened.
Hyper inflation befell Indonesia which was only several months old, the source of this inflation was the circulation of Japanese rupiah currency which was out of controt The circulation of that currency was estimated almost 4 billion. This amount increased again when some existing banks issued some of their money reserve ta defray the republic finance as paying the officials and the expense of the operational struggle.
The government could not express the Japanese money was invalid because they had not been able yet to make money by themselves. The government treasury was empty, taxes and import revenue were very small. By then, three kinds of currency were going into effect, namely the Dutch Indies currency, De Javasche Bank currency, and Japanese occupation currency.
Pemerintah tidak dapat menyatakan uang Jepang tidak berlaku dikarenakan mereka belum bisa membuat uang sendiri. Kas pemerintah mengalami kekosongan, pajak dan bea masuk sangatlah kurang. Pada waktu itu, yang berlaku adalah tiga macam mata uang, yaitu mata uang Hindia Belanda, mata uang De Javasiche Bank: dan mata uang pendudukan Jepang.
With the existence .of this inflation, farmers were the most harmed side because at the Japanese period, farmers who held and had Japanese currency. Besides, the Dutch performed a blockade.
Petani adalah pihak yang paling dirugikan dengan adanya inflasi ini karena pada masa Jepang, petanilah yang menyimpan dan memiliki mata uang Jepang. Di samping itu terjadi blokade yang dilakukan oleh Belanda.
The reasons why the Dutch performed this blockade were as follows. Adapun alasan Belanda melakukan blokade ini antara lain sebagai berikut:

  • To shut out the coming in of weapons and military equipments to Indonesia.
    Untuk mencegah masuknya persenjataan dan peralatan militer ke Indonesia.
  • Preventing of pickings plantation of the Dutch property and other foreign property.
    Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya.
  • Protect Indonesian nation of actions and deed done by non Indonesian nation.
    Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan dan perbuatan yang dilakukan oleh bukan bangsa Indonesia.
Implicitly, the main target of this blockade was to "strangle" the Indonesian nation with economic weapon. The Dutch expected the effect of this blockade would cause fluctuation in economics and social, so that the people were unconvinced to the leaders of the new republic and wished the Dutch governed ohce more in Indonesia.
Secara tersirat, tujuan utama blokade ini adalah untuk "mencekik" bangsa Indonesia dengan senjata ekonomi. Akibat dari blokade ini, yang diharapkan oleh Belanda adalah terjadi gejolak sosial-ekonomi, sehingga rakyat tidak percaya pada pemimpin Republik yang baru dan menginginkan Belanda memerintah kembali di Indonesia.
The government effort to overcome this problem by issuing national loan, a program of Minister for Finance IrSurachman, succeeded to avoid the state of bankruptcy and the people supported fully the policy realized by the central governin ent. The Dutch did not estimate this matter, so that politically .their target to smash this new republic failed. Although it was not entirely complete, a new problem arose again, namely when United States military party under Lieutenant General Sir Montagu Stopford is-sued new currency, it was NICA money.
Usaha pemerintah untuk mengatasi masalah ini dengan mengeluarkan pinjaman nasional, sebuah program dari Menteri Keuangan Ir. Surachman, berhasil menghindarkan negara dari kebangkrutan dan rakyat mendukung penuh kebij akan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat tersebut. Belanda tidak dapat memperkirakan hal ini, sehingga secara politik tujuan mereka menghancurkan Republik baru ini mengalami kegagalan. Walaupun tidak tuntas seluruhnya, timbul lagi masalah baru yaitu ketika pihak tentara Amerika Serikat di bawah pimpinan Letnan Jendral Sir Montagu Stopford mengeluarkan uang baru yaitu Uang NICA.
This NICA tnoney was issued to replace Japanese currency which had degradated. The rate value was determined 3%, that was every f 1,- of Japanese tnoney was changed by 3 cents of NICA money. This policy got opposition from Prime Minister Sjahrir so that the government began to think of making currency itself. In October 1945, new currency started to be circularized by the name of Republic of Indonesia currency, abbre-viated into ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) (spelling of van Ophuyzen).
Uang NICA ini dikeluarkan untuk menggantikan mata uang Jepang yang sudah mengalami penurunan. Nilai kurs ditentukan 3%, yaitu setiap f1, uang Jepang diganti dengan 3 sen uang NICA. Kebijakan ini mendapat tentangan dari Perdana Menteri Sjahrir sehingga pemerintah mulai memikirkan untuk membuat mata uang sendiri. Pada bulan Oktober 1945, mata uang baru mulai diedarkan dengan nama Oeang Repoeblik Indonesia disingkat ORI (ejaan van Ophuyzen).
The ratio of this rate of exchange was a thousand Japanese rupiah was changed to 1 rupiah of Republic of Indonesia cttrrency, The government limited the ownership of this money to maximum Rp. 300, for those who were married and Rp.100,- for those who were unmarried.
Perbandingan kurs mata uang ini adalah seribu rupiah mata uang Jepang ditukar dengan 1 rupiah ORI. Pemerintah membatasi kepemilikan uang ini, yaitu maksimal Rp.300,- untuk yang sudah berkeluarga dan Rp.100,- untuk yang belum berkeluarga.
After the problem of this currency was completed, then the new governmenst managed the other economic fields as the founding of the Indonesia Bank and forming of the Indonesia State Bank. In November 1946 the Indonesia State Bank was officially formed with the main duty to issue the Republic of Indonesia currency and arranged the money circulation.
Setelah masalah rnata uang ini selesai, pemerintah baru mengurus bidang ekonomi lainnya seperti pembentukan Bank Indonesia dan pembentukan Bank Negara Indonesia. Pada bulan November 1946 Bank Negara Indonesia secara resmi dibentuk dengan tugas utama mengeluarkan ORI dan mengatur peredaran uang.
The economic blockade which was performed by the Dutch was not fully perfect, because several times the government was successful to smuggle some main commodity to be sold in Singapore. The fund to finance the needs of war was yielded from the sale of Javanese commodity goods such as rice, sugar and the others through smugglings to Singapore which was a neutral region. Since the entry of Indonesia commodity goods to Singapore, then in 1947, an official representation of Indonesia by the name of Indonesia Office of Ministry of Prosperity was founded.
Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda tidak sepenuhnya sempurna, karena beberapa kali pemerintah berhasil menyelundupkan beberapa komoditi utama untuk dijual di Singapura. Dana untuk membiayai keperluan perang dihasilkan dari penj ualan barang-barang komoditi dari Jawa seperti beras, gula dan lainnya melalui penyelundupan-penyelundupan ke Singapura yang merupakan sebuah wilayah netral. Sejak masuknya barang komoditi Indonesia ke Singapura, maka mulailah dibentuk perwakilan resmi Indonesia pada tahun 1947 dengan nama Indonesia Office (Mdofj) dari kementrian Kemakmuran.
Officially, Indoff undertook to arrange the circulation of smuggled goods coming from Indonesia. Whereas another duty was performing an intelligence operation to get support of international party and bought weapon to be used in fighting against the Dutch. The famous high up smuggler was called A.K. Gani, a prosperity minister in the government of Soekarno.
Secara resmi, /ndoffbertugas mengatur peredaran barang selundupan yang berasal dari Indonesia. Sedang tugas lainnya adalah melakukan Operasi Intelejen untuk mendapatkan dukungan dari pihak internasional dan membeli senjata untuk digunakan dalam melawan Belanda. Tokoh penyelundup terkenal yang bernama A.K. Gani adalah seorang menteri kemakmuran dalam pemerintahan Soekarno.
The government in this case the Ministry of Defence also tfornied a representation institution so-called Ministry of Overseas Effort Defence led by Ali Jayengprawiro. With its fortning, so the intelligence duty which at first was only a side activity of the Indoff was taken over. At this period a dramatic event of playing game was done by the Ministry of Overseas Effort Defence in penetrating the economic blockade, so that legendary names as captain John Lie, O.P.Koesno, Ibrahim Saleh and of Cris Tampenawas. 

Kondisi Ekonomi di Awal Kemerdekaan Republik Indonesia

Pemerintah dalam hal ini kementrian Pertahanan juga membuat lembaga perwakilan yang disebut Kementerian Pertahanan Usaha Luar Negeri (KPULN) yang dipimpin olth Ali Jayengprawiro. Dengan berdirinya KPULN, maka tugas intelejen yang tadinya hanya sebagai kerja sampingan dari Indoff diambil alih. Pada masa inilah terjadi sebuah peristiwa dramatis aksi kucing-kucingan yang dilakukan oleh KPULN dalam menembus blokade ekonomi, sehingga muncul nama-nama legendaris seperti Kapten John Lie, 0.P.Koesno, Ibrahim Saleh dan Cris Tampenawas.
This playing game action is described so wonderfully by an Indonesian writer named Mochtar Lubis in his book which is entitled "Lethal and Love". Frotn the result of this game tons of Indonesia commodity as sugar, rice, and spices succeded to enter into Singapore and yielded more or less Straits 20.000.000,- a great enough atnount to of great enough to fund the expense of our revolution.
Aksi kucing-kucingan ini diterangkan dengan begitu indahnya oleh pengarang Indonesia bernama Mochtar Lubis dalam bukunya yang berjudul "Maut dan Cinta". Dari hasil kucing-kucingan ini bertonton komoditi Indonesia seperti gula, beras, dan rempah-rempah berhasil masuk ke Singapura dan menghasilkan lebih kurang Straits $ 20.000.000,- sebuah jumlah yang cukup besar untuk mendanai biaya revolusi kita.
Another policy which was taken by the government to maintain the state economy was by performing an economic conference which yielded a program of economic recovery through the planning of a ten year economic development ( proposal of A.K. Gani) and the existence of Joint Venture with foreign party under tight control of state.

At the period of Hatta cabinet administration, a rationalization program was carried out. The outline was doing administration of former army and irregular soldiers to be employed in the Ministry of Development and Youth. Just at Kasimo period (Kasimo Plan) was realized an effort of rice self-supporting by cultivating 281.277 hectares of wasteland in East Sumatra and doing agriculture crop intensification in Java.
Kebijakan lainnya yang diambil pemerintah untuk mempertahankan ekonomi negara adalah dengan melakukan konferensi ekonomi yang menghasilkan program recovery ekonomi melalui rancangan pembangunan ekonomi sepuluh tahun (usulan dari A.K. Gani) dan adanya Joint Ventura (usaha patungan) dengan pihak asing di bawah pengawasan ketat negara.

Pada masa pemerintahan kabinet Hatta, dilakukan program Rasionalisasi yang intinya melakukan pengadministrasian tenaga-tenaga bekas angkatan perang dan laskar-laskar untuk dipekerjakan di kementerian Pembangunan dan Pemuda. Baru pada masa Kasimo (Kasimo Plan) dilakukan sebuah usaha swasembada beras dengan menanami 281.277 ha tanah kosong di Sumatra Timur dan melakukan intensifikasi tanaman pertanian di Jawa.





Sumber Pustaka: Yrama Widya