Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perang Padri

Kaum Padri bertujuan untuk memurnikan agama Islam di Sumatra Barat, Gerakan Padri dipimpin oleh Haji Miskin. Beberapa tokoh yang turut dalam gerakan Padri adalah Tuanku Nan Tua, Tuanku Mesiangan, Tuanku Nan Renceh, Datuk Bandaharo, dan Malin Basa (Tuanku Imam Bonjol). Gerakan Padri disebut juga dengan gerakan Wahabi.

Dalam perjuangannya, kaum Padri mendapat tantangan dari kaum Adat. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh Belanda yang semakin menyadari bahwa tujuan gerakan Wahabi yang dibentuk oleh kaum Padri tersebut bukan hanya tertuju pada kaum Adat, tetapi juga pada pihak Belanda. Oleh karena itu, Belanda membantu kaum Adat untuk melawan kaum Padri.
Padri people wanted to purify Islamic teachings' in West Sumatra. Padri movement was led by Haji Miskin. Other figures who joined the Padri movement were Tuanku Nan Tua, Tuanku Mesiangan, Tuanku Nan Renceh, Datuk Bandaharo, and Malin Basa (Tuanku Imam Bonjol).

Padri movement was also called Wahabi movement. In their struggle, Padri people were opposed by the Traditionalists. The Dutch made use of the situafrion because they realized that the Wahabi movement was not only directed toward the Traditionalists but also to-ward the Dutch. Therefore, they assisted the Traditionalists to face Padri people.
In April 1821, the Dutch sent troops unde the command of Lieutenant Colonel Raaf A battle broke out at Sulit A ir, near Lake Singkarak, Solok. The Dutch succeeded in capturing Batusangkar (near Pagaruyung). There they built a fort called Vander Capellen Fort. Meanwhile, Lintau, Sawah Lunto, Kapau and Bukittinggi could be defended by Padri people. The Dutch launched several attacks but they always failed. In 1825, the Dutch offered a ceasefire to Padri people (who were led by Tuanku Imam Bonjol at that time) During the ceasefire, a cold war happened between the Dutch and Padri people. When the Dutch broke the ceasefire, the war started again.
Pada bulan April 1821, Belanda mengirim ,pasiikan dari Batavia di bawah pimpinan Letkol Raaf. pertempuran terjadi di daerah Sulit Air, dekat Dahau Singkarak, Solok. Serangan Belanda tersebut berhasilmerebut Batusangkar (dekat Pagaruyung). Belanda mendirikan benteng di sana yang diberi nama Benteng Fort Van der Capellen. Sementara itu, Lintau, Sawah Lunto, Kapau dan Bukittinggi dapat dipertahankan oleh kaum Padri. Beberapa-kali Belanda melancarkan serangan, tetapi selalu gagal. Pada tahun fl 825,, Belanda meengajak kaum Padri (yang ketika itu dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol) uniuk mengadakan perjanj ian damai (gencatan senjata). Kaurn Padri menyetujui usulan Belanda tersebut. Pada waktu gencatan 'senjata berlangsung, terjadi perang dingin antara Belanda dengan kaum Padri. Setelah Belanda melanggar perj anj ian tersebut, perang pun kembali berkobar.
In 1831, Lieutenant Colonel Elout arrived with his troops to face Padri people. However, since the position of Padri people was very strong, the Dutch attack failed. Then the Dutch sent other troops commanded by Major Michaels to capture Ketiangna, near Tiku, which was the center of Padri peoples forces. The attack was successful.
Pada tahun 1831, Letkol Elout datang dengan pasukannya untuk melawan kaum Padri. Namun, karena kedudukan Kaum Padri sangat kuat, serangan Belanda tersebut mengalami kegagalan. Kemudian, Belanda kembali mengirim pasukan baru yang dipimpin oleh Mayor Michaels untuk menundukkan Ketiangna, dekat Tiku, yang merupakan pusat kekuatan kaum Padri. Usaha Belanda tersebut berhasil.
On seeing this, the Traditionalists realized that the Dutch wanted to take control of West Sumatera (Minangkabau). So they decided to join s Padri p ople to resist the Dutch. In 1833, th e they cooperated to attack the Dutch in Bonjol Town, putting the Dutch in disarray. The Dutch:s position was getting more critical, so they asked Sentot Alibasyah and his troops to approach the people and the Padris under the reason that they were, all Muslims. Sentot Alibasyah did establish relationship with Padri people and betrayed the Dutch. The Dutch discovered the betrayal, so Sentot Alibasyah was arrested and the exiled in Bengkulu until he died there in 1855.

Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perang Padri

Melihat keadaan tersebut, kaum Adat mulai menyadari bahwa Belanda hendak menguasai Sumatera Barat (Minangkabau). Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk bergabung dengan kaum Padri melawan Belanda. Pada tahun 18-33, mereka bekerja sama" mdnyerang Belanda di Kota Bonjol, yang membuat Belanda kalang kabut. Kedudukan Belanda pun semakin terdesak, sehingga Belanda menyuruh Sentot Alibasyah, bersama pasukannya untuk mengadakan pendekatan terhadap rakyat dan kaum Padri, dengan alasan mereka sama-sama beragama Islam. Namun, Sentot Alibasyah benar-benar menjalin hubungan dengan kaum Padri dan berkhianat kepada Belanda. Belanda mengetahui pengkhianatan tersebut, maka akhimya Sentot Alibasya pun d itahan dan diasingkan ke Bengkulu, dan ia wafat di sana pada tahun 1855.
In 1835, Dutch troops attacked Padri people in Simawang. Using soine triaeries, the Dutch managed to capture Tuanku imam Bonjol in the attack. On 25 October 1837, he was exiled in Manado. He died there at the age of 92 and was buried in Tomohon, North Sulawesi.
Pada tahun 1835, pasukan Belanda menyerang kaum Padri di Simawang. Dalam penyerangan tersebut, dengan kelicikan Belanda, Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap. Pada tanggal 25 Oktober 1837 ia dibuang ke Manado. Ia wafat pada usia 92 tahun eclan dimakamkan di Tomohon, Sulawesi Utara.





Sumber Pustaka: Yrama Widya