Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Pangeran Diponegoro

Sikap Belanda yang selalu turut campur terhadap pemerintahan kerajaan, sangat tidak disukai oleh Pangeran Diponegoro yang merupakan seorang bangsawan Kerajaan Mataram, terlebih lagi ketika melihat Belanda mulai menerapkan budaya-budaya Barat yang bertentangan dengan agama Islam di lingkungan keraton.

Pangeran Diponegoro mulai menyusun kekuatan yang diawali dengan mengajak kalangan bangsawan yang sama-sama menentang Belanda. Kemudian ia pun mengajak rakyat yang telah menderita akibat kesewenang-wenangan Belanda untuk bergabung melawan penjajah.

Untuk mendukung perjuangannya, Diponegoro meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo. Langkah tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa ia tidak suka pada sikap keraton dan Belanda. Sikap tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan keraton dan Belanda.
The Dutch's interference in the royal goverment affairs was hated by Pai,ran Diponegoro, a nobility of Mataram Kingdom, especially when he saw that the Dutch began to apply Wesertn culture that were contradictory to Islam in the royal circle.

Pangeran Diponegoro started to build power by inviting other nobilities who also opposed the Dutch to join him. Then he encouraged the people who had suffered a lot due to the Dutch's arbitrary conducts to join in.

To sustain his struggle, Diponegoro decided to leave the palace and settled in Tegalrejo. The actin was done to show his dislike of the Dutch and royal circle.
Diponegoro's hatred of the Dutch mounted when the Dutch staked the grave of his ancestors to build a road across it. Then Diponegoro replaced the stakes with spears as a challenge to the Dutch.
Kebencian Diponegoro kepada Belanda semakin besar dengan perbuatan Belanda yang mematok tanah makam leluhur Diponegoro untuk dijadikan jalan. Kemudian, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak-tombak sebagai tantangan kepada Belanda.
Finally, on 25 June 1825, the Dutch attacked Diponegoro in Tegalrelo.' To support his resistance against the Dutch, Pangeran Diponegoro and his troops built a fort at Selarong. They belived that they were capable of defeating the Dutch. The belief increased when some important figures foined in, such as Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah Prawirodirjo, and Kiai Mojo. Kiai Mojo succeeded in raising the people's spirit of jihad in Yogyakarta, Surakarta, Bagelen and nearby areas.
Akhirnya, pada tanggal 25 Juni 1825, Belanda menyerang Diponegoro di Tegalrejo. Untuk mendukung perlawanan menghadapi Belanda, Pangeran Diponegoro dan, pasukannya- membangun benteng pertahanan di Selarong. Diponegoro dan pasukannya memiliki keyakinan bahwa ia dan pasukannya dapat mengalahkan Belanda. Keyakinan tersebut semakin kuat ketika orang-orang seperti Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, dan Kiai Mojo bergabung dalam perjuangannya. Kiai Mojo berhasil mengobarkan semangat jihad rakyat di daerah Yogyakarta, Surakarta, Bagelen, dan sekitarnya.
In 1826, a battle broke out at Ngalengkong. Diponegoro's troops won the battle. Not long after that, Pangeran Diponegoro was crowned by his followers as a Sultan and he was given the title "Sultan Abdul Hamid Hertajokro Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa".
Pada tahun 1826, terjadi pertempuran di Ngalengkong. Pasukan Diponegoro mendapatkan kemenangan. Oleh para pengikutnya, Pangeran Diponegoro dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar "Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa".
In the battle at Gawok, a dispute arose between Pangeran Diponegoro and Kiai Mojo. Diponegoro proposed a guerilla warfare and suggested that government affairs and religious affairs should be handled by one person to make the two in-tegrated and complementary to each other. However, Diponegoros view was contradictory to the view of Kiai Mojo who suggested that government affairs be separated from religious affairs. Besides, Kiai Mojo preferred an open war
Ketika berlangsung pertempuran di Gawok, terjadi perselisihan antara Pangeran Diponegoro dengan Kiai Mojo. "Pangeran Diponegoro mengusulkan strategi perang gerilya dan mengusulkan agar masalah pemerintahan dengan keagamaan harus dipegang oleh satu orang, agar satu sama lain saling membantu dan tidak dapat dipisahkan". Namun, pandangan Pangeran Diponegoro bertolak beldkang dengan pendapat Kiai Mojo yang mengusulkan agar masalah pemerintahan dan keagamaan harus dipisahkan. Mengenai siasat perang, Kiai Mojo lebih menyukai perang terbuka.
Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Pangeran Diponegoro

Because of rthe dispute, Diponegoro's followers left Kiai Mojo one by one, while Kiai Mojo and Sentot Alibasyah who both favoured a open war separated from Diponegoro.. In the end of 1828 Kiai Mojo was captured by the Dutch and Sentot Alibasyah surrendered in October 1829.
Akibat dari perbedaan pendapat tersebut, akhirnya satu per satu pengikut Pangeran. Diponegoro meninggalkan Kiai Mojo, sedangkan Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah yang sama-sama menginginkan perang terbuka pergi memisahkan diri. Pada akhir November 1828, Kiai Mojo ditangkap dan Sentot Alibasyah menyerah pada bulan Oktober 1829.
Diponegoro War had used up a lot of money and caused a lot of deaths on both the Dutch and Pangeran Diponegoro sides. The two parties finally agreed to have a peace talk to end the war. Around February 1830, Colonel Cleerens managed to arrange a talk with Pangeran Diponegoro. The talk was continued in March 1830 in Magelang between Pangeran Diponegoro and Lieutenant General Hendrik Markus Baron de Kock. Unfortunately, Pangeran Diponegoro and his men were betrayed by the Dutch Diponegoro was exiled in Manado, then moved to Makasar. He died there on 8 January 1855.
Perang Diponegoro telah menguras biaya dan jatuh banyak korban bagi pihak Belanda, begitu juga di pihak Pangeran Diponegoro. Untuk mengakhiri perang tersebut, mereka sepakat untuk berunding. Sekitar bulan Februari 1830, Kolone Cleerens berhasil mengadakan perundingan dengan Pangeran Diponegoro. Perundingan dilanjutkan pada bulan Maret 1830 di Magelang dengan Letnan Jenderal Hendrik Markus Baron de Kock. Namun, dalam perundingan tersebut Pangeran Diponegoro dikhianati oleh Belanda. Mereka menangkap Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya. Ia dibuang ke Manado, lalu dipindahkan ke Makasar. Pangeran Diponegoro meninggal dunia di sana pada tanggal 8 Januari 1855.





Sumber Pustaka: Yrama Widya