Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Rakyat Batak

Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain yang ada di wilayah Indonesia, Kerajaan Batak pun mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan tersebut dipimpin oleh Sisingamangaraja XII. Ia adalah raja dari Kerajaan Bakkara. Meletusnya Perang Batak disebabkan oleh tindakan Belanda yang mempersempit daerah kekuasaan Sisingamangaraja XII. Mulai dari kota Natal, Mandailing, Angkola, Sipirok, dan Tapanuli Selatan telah dikuasai oleh Belanda. Tindakan Belanda tersebut dilandasi oleh semangat untuk mewujudkan Pan Netherlandica.
Like other kingdoms in Indonesia, Batak Kingdom also resisted the Dutch. The resistance was led by Sisingamangaraja XII. The was the king of Bakkara Kingdom. The outbreak of Batak War was triggered by the Dutch's action to narrow down the territory under the control of Sisingamangaraja XII. Natal, Mandailing, Angkola, Sipirok, and South Tapanuli had been captured by the Dutch. The Dutch's action was under pinned by the spirit to create Pan Netherlandica.
To achieve their goa,ls, the Dutch. captured North Tapanuli and East Sumatra. Sisingamangaraja responded to the Dutch so action. From 1878 to 1885, he launched several attacks on the Dutch in North Tapanuli. In 1894 the Dutch sent troops under the command of Van Daalen to btake over Bakkath which was the center of government of Sisingamangaraja XII.

In 1904, the Dutch continued their attack to North Tapanulh but they were beaten by the troops of Sisingamangaraja XII. Knowing that Sisingamangaraja's army was so strong, the Dutch asked for help from the troops in Aceh. The relief force commanded by Christoffel arrived promptly. The Dutch wanted to destroy Sisingamangaraja's XII's troops in Pakpak. Sisingamangaraja XII was killed in battle in 1907. This made it easier for the Dutch to take control of Tapanuli.
Dalam upaya mewujudkan keinginannya, Belanda merebut dan menguasai Tapanuli Utara dan Sumatra Timur. Sisingamangaraja XII tidak tinggal diam melihat tindakan Belanda tersebut. Pada tahun 1878-1885, ia melaficarkan berbagai serangan terhadap Belanda di Tapanuli Utara. Pada tahun 1894, Belanda mengirimkan pasukannya di bawah pimpian Van Daalen, untuk merebut Bakkara yang merupakan pusat kekuasaai Sisingamangaraja XII.
Pada tahun 1904, pasukan van Daalen melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara. Serangannya tersebut berhasi I dipatahkan oleh pasukan Sisingamangaraja XII. Melihat tangguhnya pasukan Sisingamangaraja XII, Belanda meminta bantuan pada pasukan Belanda yang berada di Aceh. Pasukan bantuan pun segera datang di bawah pimpinan Christoffel. Belanda berarnbisi untuk menghancurkan kekuatan Sisingamangaraja XII di Pakpak. Dalam pertempuran tersebut, Sisingamangaraja XII gugur pada tahun 1907. Gugurnya Sisingamangaraja XII mempermudah Belanda untuk menguasai daerah Tapanuli.
In addition to the resistances described above, there were some other resistances which were performed by people in other regions ti6 expel the Dutch out of Indonesia. Some of them were the resistance of Chinese Trade Association in West Kalimantan (1848-1864), the resistance of Raden Lutau in Lampung (1856-1859), and the resistance of Sultan. Siak in Sumatra (1857). The resistances showed that no kingdom nor people in a region was willing to be colonized by foreign people. They would certainly de-fend their independence, though they had to risk their lives. 

Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Rakyat Batak

Selain perlawanan-perlawanan yang telah dipaparkan di atas, masih ada beberapa perlawanan yang dilancarkan oleh daerah lain untuk mengusir penj ajah Belanda di Indonesia. Di antaranya adalah perlawanan Kongsi Dagang Cina di Kalimantan Barat (1848-1864), perlawanan Raden Lutau di Lampung (1856 1859), dan perlawanan Sultan Siak dari Sumatra Utara (1857). Beberapa perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia tersebut membuktikan bahwa tidak ada satu kerajaan atau satu daerah pun ayang rela dijajah oleh bangsa asing. Mereka pasti akan memperjuangkan kemerdekaannya, walaupun nyawa sebagai taruhannya.
The farmers also resisted the Dutch in their areas through Social Movements. They did not only oppose the Dutch, but 'also local ties who did not side with them. Among the movements was the movement of Banten farmers in 1888 which was led by K.H. Tubagus Ismail and K.H. Wasyid.
Adapun perlawthian para petani dilakukan melalui Gerakan Sosial menentang kehadiran Belanda di daerahnya. Perlawanan petani juga menentang penguasa lokal yang bekerjasama dengan Belanda dan tidak berpihak kepada petani. Salah satunya adalah, gerakan petani Banten pada tahun1888 yang dipimpin oleh K.H. Tubagus Ismail dan K.H.Wasyid.

 


Sumber Pustaka: Yrama Widya