Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Rakyat Kalimantan Selatan

Pada masa pemerintahan Sultan Adam, Belanda mulai masuk ke wilayah Banjatmasin. Ketika Sultan Adam wafat pada tahun 1857, terjadi perebutan kekuasaan di lingkungan keluarga istana. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Belanda untuk dapat menguasai Kerajaan Banjarmasin dengan menggunakan politik adu dombanya.

Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai sultan. Pengangkatan tersebut banyak menimbulkan pertentangan, karena sifat Tamjidillah yang suka mabuk-mabukan. Selain itu, perbuatan Belanda yang selalu ikut campur dalam urusan kerajaan, membuat anggota kerajaan yang anti Belanda bersama rakyat menjadi marah. Kemarahan itulah yang membuat mereka bersatu untuk melawan Belanda.
In the period of Sultan Adam's reign, the Dutch began to enter Banjarmasin. After Sultan Adam died in 1857, a dispute over power happened among the royal families. The Dutch topk advantage of the situation by applying a divisive policy in order to take control of Banjarmasin Kingdom.

They appointed Tamfidillah the Sultan of Banjarmasin. The appointment aroused wide spread opposition because Tamjidillah was known as a drunkard. Besides, the Dutch attitude that always interfered in the affairs of the kingdom made the members of the royal family who were anti-Dutch and also the poeple of Banjarmasin angry. The anger became a factor which united them to resist the Dutch. 
In 1859, Banjarmasin people under the leadership of Pangeran Antasari an4 Pangeran. Hidayatullah started the resistance. They were stupported by Kiai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, and Kiai Langlang. To win the heart of the people, the Dutch offered to appoint Pangeran Hidayatullah Sultan of Banjarmasin to replace Tamjidillah. However, Pangeran Hidayatullah refused the offer Because of the vacuum of power, the Dutch finally eliminated Banjarmasin Kingdom and made it a territory of the  Dutch.
Pada tahun 1859, rakyat Banjarmasin di bawah pimpinan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah mengadakan perlawanan. Mereka mendapat bantuan dari Kiai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang. Dalam perang tersebut, Belanda berusaha menarik simpati rakyat dengan mengangkat Pangeran Hidayatullah sebagai Sultan, menggantikan Tamjidillah. Namun, Pangeran Hidayatullah menolak tawaran Belanda tersebut. Karena terjadi kekosongan kekuasaan, akhirnya Belanda menghapuskan Kerajaan Banjarmasin dan dijadikan wilayah kekuasaan Belanda.
The Dutch's arbitrary actions raised the spirtt of resistance of Banjarmasin people. Resistances appeared one after another, but the Dutch alwaye s managed to suppress them. On 2 October 1861, Kiai Demang Leman surrendered to the Dutch. T hen on 3 February 1862, Pangeran Hidayatullah was captured and then exiled in Cianjur. This action eriraged Kiai Demang Leman. He liberated himself and started resisting the Dutch again.

Kronologi Sejarah dan Latar Belakang Perlawanan Rakyat Kalimantan Selatan

Tindakali Belanda yang sewenang-wenang tersebut semakin mengobarkan semangat perlawanan di kalangan rakyat Banjar. Perlawanan demi perlawanan terus terjadi, namun pasukan Belanda berhasil mematahkan perlawanan tersebut. Pada tanggal 2 Oktober 1861, Kiai Demang Leman menyerah kepada Belanda. Kemudian pada tanggal 3 Februari 1862, Pangeran Hidayatullah ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Kejadian tersebut membuat kiai Demang Leman marah. Ia kemud;an melepaskan diri dan kembali melakukan perlawanan terhadap Belanda.
In March 1862, Pangeran Antasarigwas appointed Sultan with the title "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukmin". On 11 October 1862, he died in Hulu Teweh. He was then succeeded by his son called Mohammad Seman who continued the resistance against the Dutch. The resistance of Banjarmasin people went on uniil the beginning of the 20th century.
Pada bulan Maret 1862, Pangeran Antasari diangkat menjadi sultan dengan gelar "Panembahan. Amiruddin Khalifatul Mukmin". Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari, wafat di Hulu Teweh. Kemudian, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mohammad Seman, untuk melanjutkan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan rakyat Banjar masih terus berlanjut hingga awal abad ke-20.





Sumber Pustaka: Yrama Widya