Kronologi Sejarah Terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia

Tidak semua menteri hadir di Yogyakarta. Sebagian dari mereka sedang mengadakan perjalanan dinas ke beberapa wilayah di Sumatra dan Jawa, salah satunya Mr. Safruddin Prawiranegara. Beliau adalah Menteri Kemakmuran yang sedang menjalankan tugas di Bukittinggi untuk menyiapkan rencana kepergian Soekarno ke India untuk menemui Perdana Menteri Nehru. 
Not all ministers were present in Yogyakarta. Some of them were making an official journey to some regions in Sumatra and Java, one of them was Mr. Safruddin Prawiranegara. He was the Minister of Prosperity who was on duty in Bukittinggi to prepare the departure plan of Soekarno to India to meet Prime Minister Nehru.
The aggression performed by the Dutch came simultaneously. In Yogyakarta the Dutch succeeded to control the town, but in Bukittinggi they met with failure.
Penyerangan yang dilakukan Belanda datangnya bersamaan. Di Yogyakarta Belanda berhasil menguasai kota, namun di Bukittinggi mereka mengalami kegagalan.
There are some matters which caused the Dutch failed to occupy Bukittinggi swiftly namely as follows.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Belanda gagal menduduki Bukittinggi dengan cepat yaitu seperti berikut.
The mistake of the Dutch intelligence assuming that the crowd of large group of people downtown, were soldiers prepared to fight against the Dutch, whereas they were the people who were waiting for the President arrival, so that the plan of attack was backed into Lake of Singkarak which was aparted 8 hours from the town of Bukittinggi.
Kesalahan intelijen Belanda yang mengira bahwa kerumunan orang di pusat kota adalah pasukan yang disiapkan untuk melawan Belanda, padahal mereka adalah rakyat yang sedang menunggu kedatangan Presiden, sehingga rencana penyerangan dimundurkan ke Danau Singkarak yang berjarak 8 jam dari kota Bukittinggi.
Lack of airborne troops available, because they centred the attack to Yogyakarta.
Kurangnya pasukan AIRBONE (Lintas Udara) yang dimiliki Belanda, karena mereka memusatkan penyerangan ke Yogyakarta.
It appeared that the mandate given by the President through a radio-gram did not arrive in the hand of Safruddin. But because of request of some other ministers especially military commander of Sumatra region colonel Hidayat, then Safruddin as the highest proxy of the governnzent formed an emergency goVernment of Republic of Indonesia. Then he divided the existing ministers into several phases of different evacuation that was directly under Safruddin, chief of emergency government of Republic of Indonesia, waged guerrilla to region of Halaban (about 15 km from Payakumbuh) and the phase under the leadership of minister of emer-gency government of Republic of Indonesia, Moh. Rasyid waged guerrilla to Kotatinggi a country at the hillside of Bukit Barisan. 

Kronologi Sejarah Terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia

Mandat yang diberikan Presiden melalui radiogram ternyata tidak sampai ke tangan Safruddin. Namun karena desakan beberapa menteri lainnya terutama Panglima Tentara Wilayah Sumatra Kol. Hidayat, maka Safruddin sebagai wakil tertinggi pemerintah membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kemudian membagi para menteri yang ada menjadi beberapa gelombang pengungsian yang berbeda yaitu langsung di bawah Ketua PDRI Safruddin bergerilya ke wilayah Halaban (sekitar 15 km dari Payakumbuh) dan Gelombang di bawah pimpinan menteri PDRI Moh. Rasyid bergerilya ke Kotatinggi sebuah nagari di lereng Bukit Barisan.
Colonel Hidayat left for Aceh. If it was observed from the military strategy, hence they would form a spider net and would be very difficult to be conquered by the Dutch. The capital of emergency government of Republic of Indonesia was indeed in Bukittinggi, but de facto the capital was in middle of the jungle so that a writer mentioned "Some Where in The Jungle".
Sedangkan Kol. Hidayat pergi menuju Aceh. Jika dilihat dalam strategi militer, maka mereka akan membentuk jaring laba-laba dan akan sangat sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda. Ibukota PDRI memang di Bukittinggi, namun secara de facto ibukotanya berada di tengah hutan sehingga seorang penulis menyebutkan sebagai "Some Where in The Jungle".





Sumber Pustaka: Yrama Widya