Peran Media Pers dalam Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan RI

Setelah Proklamasi Kemerdekaan berkumandang di jalan Pegangsaan Timur 56, maka kegembiraan para pejuang bangsa dan rakyat Indonesia terpancar dalam pekik "Merdeka". Penderitaan dan tekanan yang dirasakan rakyat dalam waktu yang lama oleh penindasan para penjajahan asing telah berbuah kemenangan yang manis yaitu sebuah kemerdekaan, sehingga sambutan yang dilakukan oleh rakyat sangat sukar dilukiskan.

Mereka tidak hanya larut dalam kegembiraan tapi juga berusaha merebut alat-alat perhubungan seperti telepon, telegram, pemancar radio, dan alat-alat lalulintas yang ketika itu masih dikuasai oleh Jepang. Fasilitas itu digunakan untuk menyebarkan berita Proklamasi ke seluruh pelosok tanah air.
After the proklamation of independence filled the air at 56 East Pegangsaan Road, then excitement of the nation combatants and the people of Indonesia shone in the yell "independent". Sufferings and pressure felt by the people for a very long time because of oppression by foreign colonizations had borne fruit sweet victory that was an independence, so that the reaction done by the people was very difficult to portray.

They did not only drag on excitement but also tried to grab communication appliances such as telephone, telegram, radio broadcaster, and traffic appliances which were still under control of Japanese at that time. Those facilities were used to propagate the news of the proclamation to entire corner of the fatherland.
There are several media which were used in spreading of the proclamation news namely : Ada beberapa media yang digunakan dalam penyebaran berita proklamasi yaitu : 
  • radio - radio;
  • newspaper - surat kabar;
  • pamphlet - pamplet;
  • chained news - berita berantai;
  • through mosque funnel - melalui corong masjid;
  • streaks the wall - doretan-coretan di dinding.
Here in after the yell "Independent or Dead" was spread over to entire corner of Nusantara territory, the people at moment's notice made that yell as a keyword to recognize whether they were friends or adversaries.

All circles of old young, men and women went down to the road to greet the scream of independence, so that cheerful atmosphere and deep thank fulness of all people addressed solemn bliss of proclamation of independence of Indonesia.
Selanjutnya pekik "Merdeka atau Mati" tersebar ke seluruh pelosok wilayah Nusantara, rakyat serta merta menjadikan pekik itu sebagai kata kunci untuk mengenali apakah mereka kawan atau lawan.

Semua kalangan dari tua-muda, laki-laki dan perempuan turun ke jalan untuk menyambut pekik kemerdekaan, sehingga suasana gembira dan rasa syukur yang dalam dari seluruh rakyat memberi sambutan kebahagiaan yang khidmat atas proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Peran Media Pers dalam Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan RI

Not all regions were able to know the proclamation news fast. This matter was caused by so limited available appliances and also so broadness the territory of Indonesia. The example, Sumatra just got the proclamation news on the first week of September, Sulawesi on the second week of September and the other. The news about the independence was not only propagated within the country, but also abroad. Radio media was the most effective in propagating this news abroad, especially by the aid of a foreigner named Ketut Tantri.
Tidak semua daerah dapat mengetahui berita proklamasi dengan cepat. Hal ini disebabkan begitu terbatasnya alat yang ada serta begitu luasnya wilayah Indonesia. Contohnya, Sumatra baru mendapatkan berita proklamasi pada minggu pertama bulan September, Sulawesi pada minggu kedua September dan lainnya. Berita tentang kemerdekaan tidak hanya disebarkan di dalam negeri saja, tapi juga ke luar negeri. Media Radiolah yang paling efektif dalam menyebarkan berita ini ke luar negeri, terutama oleh bantuan dari seorang asing bernama Ketut Tantri.




Sumber Pustaka: Yrama Widya