Perintah Infaq, Derma, Shodaqoh

Selain zakat yang wajib baik zakat harta maupun zakat fithrah tersebut di atas, Agama Islam menganjurkan, agar Umat Islam berderma pada jalan Allah, seberapa suka dan rela, terutama apabila ada kepentingan-kepentingan yang memerlukannya, baik kepada orang-orang tertentu maupun untuk kemaslahatan umum.

Permisalan orang yang mau berinfaq atau membelanjakan hartanya di jalan Allah yakni jalan kebaikan dan kemaslahatan seperti sebuah biji yang tumbuh menjadi tujui batang dan tiap batang berbuah seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendakiNya dan Allah mempunyai kurnia yang luas lagi mengetahui.

Menjadi derma atau infaq di jalan Allah itu berlipat ganda pahalanya sampai tujuh ratus kali ganda dari harta yang didermakan, bahkan kalau memang ikhlas betul-betul akan dilipat gandakan lagi. Hal ini perlu menjadi dasar amaliyah kehartaan setiap muslim.

Sebaliknya orang yang menyimpan hartanya dan menum-puk-numpuknya tidak diinfaqkan atau didermakan di jalan Allah merasa bahwa hartanya itulah sepenting-penting kehidupan dan berbahagia dengan menyimpan hartanya itu, selalu dihitung-hitung sendiri, sampai-sampai makannya sendiri dikurangi untuk menumpuk-numpuk hartanya, mengabdi kepada hartanya, kecintaannya kepada hartanya melebihi kecintaannya kepada Agama dan kemanusiaan, terlalu egosentris hidupnya, dikiranya bahwa hartanya itu akan mernbuat dia abadi di dunia yang fana ini, ingatlah bahwa orang tersebut diancam dengan neraka yang disediakan untuknya dan diancam dengan siksa yang sangat pedih.

Manusia yang dianugerahi harta oleh Allah Subl inahu wata'ala yang semestinya disyukuri itu sikapnya terhadap harta ada tiga tingkatan:

1. Orang yang diberi harta oleh Allah dan bersyukur, berani berkorban dengan hartanya untuk dirinya, keluarganya, menolong orang yang kesusahan, memberi makan fakir miskin, membantu kemaslahatan dan kemajuan Agama, membantu kemakmuran masyarakat, bangsa dan tanah-airnya.

Dengan bantuan mereka inilah maka Agama Islam hidup subur dan maju, umat Islam sampai ke puncak ketinggian dan kesempurnaan, Agama Islam nampak semarak dan menjadi tumpuan hidup masyarakat, umat Islam dengan hartanya menjadi pelopor kemajuan bangsa, maka nama para hartawan dan dermawan yang penuh bakti itu akan kekal tercantum dalam lembaran sejarah selaku pahlawan kemakmuran dan kesejahteraan, nantinya di akhirat mereka akan menerima balasan dan ganjaran yang setimpal dengan kemurahan rnereka.

2. Orang yang mempunyai harta benda banyak dan bertumpuk-tumpuk, tetapi tidak sanggup membelanjakan hartanya kecuali hanya untuk kesenangan sendiri, kemegahan dan menurut hawa nafsu syaithoniyahnya saja, berlebih-lebihan sampai dibuang-buang sedang di sela-sela kemewahan dan kemegahannya itu dia melihat orang-orang yang kurus kering tak tentu apa yang, dimakan hidup di tepi-tepi jalan dan di lorong-lorong, namun tidak tergerak hati si kaya sedikitpun melihat kenyataan ini, maka tingkatan orang yang demikian ini tidak jauh dengan yang berkaki empat.

Perintah Infaq, Derma, Sodaqoh

Andaikata ada orang Islam yang demikian ini, maka adanya mereka hanya membawa nama tidak baik bagi Islam yang kita muliakan ini, sebab orang luar tidak memandang dan menyelidiki hakikat kebenaran Islam tetapi umumnya hanya melihat orang-orangnya. Adanya orang-orang semacam ini dalam Islam tianya akan  kemerosotan Islam saja. Agama Isla membawa m membenci dan mengutuk keras orang tersebut.

3. Orang yang berharta dan mendapat rizqi banyak dari Allah, tetapi dari hartanya itu dia tidak mengambil manfaatnya, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Hartanya hanya dijaga dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya, dijaga keras jangan sampai terlepas dari tangan.

Dia terlalu cinta kepada dzatny hartanya melebihi kepada dirinya sendiri. Dia cinta kepada dzatnya harta,tidak senang kepada  manfaatnya. IniIah arta, tidak senang kepada manfaat orang yang kikir terhadap dirinya dan apalai orang lain. Dia abdi hartanya.orang ini sebenarnya tidak sehat pikirannya.




Sumber Pustaka: PT. AL Ma'arif