Upaya Perjuangan Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia

Kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia diawali dengan datangnya tujuh perwira Inggris dibawah pimpinan Mayor A.G. Groonhalg di lapangan Kemayoran Jakarta yang mendarat menggunakan parasut. Mereka mendapat tugas untuk mengawasi situasi di Indonesia dan melaporkannya pada Komando Sekutu wilayah Asia Tenggara (SEAC) yang berpusat di Singapura. Untuk Indonesia, secara khusus Sekutu membentuk AFNEI (Alied Forces Netherlands East Indies) yang diwakili oleh Inggris di bawah pimpinan Jendral Sir Phillip Christison.
The arrival of the Allied forces to Indonesia was preceded by the coming of seven English officers under major A.G Groonhalg at Kemayoran aerodrome Jakarta who landed by parachute. They were assigned to care for situation in Indonesia and reported to the Ally Commando of South East Asia region which was centered in Singapore. For Indonesia, peculiarly, the Ally formed AFNEI (Alied Forces Netherlands East Indies) deputized by English under General Sir Phillip Christison.
The arrival of major A.G. Groonhalg was followed by the anchorage of the Cumberland cruiser which landing troops at Tanjung Priuk.This ship carried the fifth explorer squadron of English under Rear Admiral W. R. Patters on.
Kedatangan Mayor A.G. Groonhalg disusul oleh berlabuhnya kapal penjelajah Cumberland yang mendaratkan pasukan di Tanj ung Priuk. Kapal ini membawa skuadron penjelajah V Inggris di bawah pimpinan Laksamana Muda W.R. Patterson.
The commands passed to this allied troops among others were:
Perintah yang diberikan pada pasukan gabungan ini antara lain :
  • accepting capitulation Japanese hand; menerima penyerahan dari tangan Jepang;
  • freeing the prisoners of war and Federal Internees; membebaskan para tawanan perang dan Interniran Serikat;
  • disarming and collecting the Japanese people to be returned home; melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk dipulangkan,
  • upholding and maintaining the peace condition; menegakkan dan mempertahankan keadaan damai;
  • gathering information about war criminal and charged them in front of Federal justice. menghimpun keterangan tentang penjahat perang dan menuntut mereka di depan pengadilan Serikat.
At the beginning, the arrival of the Allied forces was accepted well because it was assumed neutral by Indonesia party. But, because it was known that this Federal troops brought NICA (Netherlands Indies Civil Administration) so the people attitude turned into antipathy.
Pada awalnya, kedatangan pasukan Serikat diterima dengan baik karena dianggap netral oleh pihak Indonesia. Namun, karena diketahui pasukan Serikat ini membawa NICA (Netherlands Indies Civil Administration) maka sikap rakyat berubah menjadi antipati.
The security condition declined sharply since NICA armed itself and performed provocation to Republic troops. The Commander of AFNEI acknowledged the Republic of Indonesia government by de facto on October 1, 19445. This especial reason of this acknowledgment was constituted by their confidence that its duty would not run well if there was not any aid from the government of Republic of Indonesia. The arrival of the federal troops in most of all territory of Republic of Indonesia was always accompanied with weapon contact incident. This matter happened because they did not honor to sovereignly of Republic of Indonesia.
Situasi keamanan merosot tajam sejak NICA mempersenjatai dirinya dan melakukan provokasi terhadap pasukan Republik. Panglima AFNEI mengakui pemerintahan RI secara de facto pada tanggal 1 Oktober 1945. Alasan utama pengakuan ini didasari oleh keyakinan mereka bahwa tugasnya tidak akan berjalan defigan baik jika tidak ada bantuan dari pemerintah RI. Kedatangan pasukan Serikat di hampir semua wilayah RI selalu saja diiringi dengan insiden kontak senjata. Hal ini terjadi karena mereka tidak menghormati kedaulatan RI.
The resistance which was carried out by the people more and more increased by the end of 1945. The Federal party was overhelmed in overcoming the problem of security, so that they returned to allege the Republic of Indonesia party as terrorist. The government assertively refused this charge and gave threat to the Federal army side that they did not have airight to interfere in political business of Indonesia home affairs. The NICA troops were more and more rampant, they even mobilized the green beret team under the head of Westerling to kick up a rumpus in the Republic of Indonesia territory. They performed a lot of brutal actions from murder, robbery and other intimidation actions. 

Upaya Perjuangan Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia

Perlawanan yang dilakukan rakyat semakin meningkat pada akhir tahun 1945. Pihak Serikat mengalami kewalahan dalam mengatasi masalah keamanan, sehingga mereka menuduh balik pihak RI sebagai teroris. Pemerintah dengan tegas menolak tuduhan ini dan memberikan ancaman pada pihak tentara Serikat bahwa mereka tidak berhak ikut campur dalam urusan politik dalam negeri Indonesia. Pasukan NICA semakin meralalela bahkan mereka menurunkan pasukan Baret Hijaunya di bawah pimpinan Westerling untuk membuat kekacauan di wilayah W. Banyak sekali aksi brutal yang mereka lakukan dari pembunuhan, perampokan dan tindakan intimidasi lainnya.
The Federal Troops wich were excessively dominated by Legion of Gurkha troops, a lot of them apparently performed desertion because they felt to be cheated by their leaders who said that they were sent to a masterless region. Besides the troops who adhered Islam were more and more convinced that which they occupied was a territory owned by another. Not to mention there was an appeal of Prime Minister of India Nehru that the troops coming from Legion Gurkha were permitted to refuse command of their superiors if to fight the Republic of Indonesia party.
Pasukan Serikat yang banyak didominasi oleh para pasukan Legiun Gurkha ternyata banyak yang melakukan disersi dikarenakan mereka merasa ditipu oleh pimpinan mereka yang mengatakan bahwa mereka di kirim ke wilayah yang tidak bertuan. Ditambah lagi pasukan yang beragama Islam semakin yakin bahwa yang mereka duduki ini adalah wilayah yang sudah ada pemiliknya. Belum lagi ada himbauan dari Perdana Menteri India Nehru bahwa pasukan yang berasal dari Legiun Gurka diperbolehkan untuk menolak perintah atasannya jika untuk memerangi pihak RI.





Sumber Pustaka: Yrama Widya