Pemerintahan Dan Bentuk Kebudayaan Pada Peradaban Lembah Sungai Gangga

Pemerintahan Pada Peradaban Lembah Sungai Gangga


Perkembangan sistem pemerintahan di Iembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan dan sistem pemerintahan masyarakat di daerah Iembah Sungai Sindhu. Sejak runtuhnya Kerajaan Maurya, keadaan menjadi kacau akibat terjadi peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan ini baru dapat diamankan kembali setelah munculnya Kerajaan Gupta.
  • Kerajaan Gupta
Kerajaan Gupta didirikan oleh Raja Candragupta I (320—330 M) dengan pusatnya di Iembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candra-gupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, tetapi agama Buddha tetap dapat berkembang.

Kerajaan Gupta mencapai masa yang paling gemilang ketika Raja Samudra Gupta (cucu Candragupta I) berkuasa. Seluruh lembah Sungai Gangga dan lembah Sungai Sindhu berhasil dikuasainya. Ia menetapkan kota Ayodhia sebagai ibu kota kerajaannya. Raja Samudra Gupta terkenal keras dan kejam serta tidak mengenal kasihan terhadap musuh-musuhnya. Tetapi bagi rakyatnya ía seorang raja yang murah hati, serta selalu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya.

Raja Samudragupta digantikan oleh anaknya yang bernama Candragupta 11(375-415 M). Candragupta II terkenal sebagai Wikramaditiya. Seperti raja-raja Gupta Iainnya, ia beragama Hindu. Namun, ía tidak memandang rendah dan tidak mempersulit agama Buddha. Bahkan pada zaman pemerintahannya berdiri Universitas Gupta sebagai perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda.



Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat makmur dan sejahtera, banyak gedung indah didirikan. Perdagangan dan pelayaran makin maju. Kesenian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan berkembang pesat. Kesusasteraan mengalami masa yang gemilang, bahkan pada zaman mi terkenal seorang pujangga yang bernama pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul Syakuntala. Perkembangan seni pahat dan seni patung mencapai kemajuan yang pesat, sehingga pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasai kuil-kuil di Syanta.

Tetapi setelah meninggalnya raja Candra Gupta II, kerajaan Gupta mulai mundur. Bahkan berbagai suku bangsa dan Asia Tengah melancarkan serangan terhadap kerajaan Gupta. Maka hampir dua abad, India mengalami masa kegelapan dan baru pada abad ke-7 M tampil seorang raja kuat yang bernama Harshawardana.

Kerajaan Harsha

Ibu kota Kerajaan Harsha adalah Kanay. Salah seorang Rajanya, yaitu Harshawardana, adalah seorang pujangga besar. Pada zamannya kesusasteraan dan pendidikan berkembang pesat. Pujangga yang terkenal pada masa kekuasaannya bernama pujangga Bana dengan buku karangannya berjudul Harshacarita.

Pada mulanya raja Harsha memeluk agama Hindu, tetapi kemudian memeluk agama Buddha. Wihara dan Stupa banyak dibangun di tepi Sungai Gangga, juga tempat-tempat pengmnapan dan rumah-rumah sakit didirikan untuk memberikan pertolongan dengan cuma-cuma. Candi-candi yang rusak diperbaiki, bahkan candi-candi baru juga dibangun.

Setelah masa pemermntahan Raja Harshawardana hingga abad ke-1 1 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang berkuasa. India mengalami masa kegelapan.

Bentuk Kebudayaan Lembah Sungai Gangga

Perkembangan kebudayaan masyarakat Lembah Sungai Gangga mengalami banyak kemajuan pada bidang kesenian. Kesusasteraan mengalami masa yang gemilang. Di samping itu, seni pahat dan seni patung berkembang pesat. Juga kuil-kuil yang indah dan Syanta dibangun.

Kebudayaan Iembah Sungai Gangga merupakan suatu campuran antara kebudayaan bangsa Arya dengan kebudayaan bangsa Dravida. Kebudayaan mi Iebih dikenal dengan kebudayaan Hindu. Bangsa Arya yang hidup sebagai penggembala setelah tiba di India dan bertemu dengan bangsa Dravida yang sudah hidup menetap dan bercocok tanam, meninggalkan kehidupan sebagai bangsa penggembala dan mulai menetap. Mereka pun mengadakan asimilasi (pencampuran) sehingga melahirkan kebudayaan Hindu. 

Daerah-daerah yang diduduki oleh bangsa Indo-Anya sering disebut dengan Arya Varta (Negeri Bangsa Anya) atau Hindustan (tanah milik bangsa Hindu). Bangsa Dravida mengungsi ke daerah selatan, kebudayaannya kemudian dikenal dengan nama kebudayaan Dravida. 
Sumber Pustaka: Erlangga