Sosialisasi Politik Dan Komunikasi Politik

Sosialisasi Politik Dan Komunikasi Politik


Sosialisasi politik, menurut Hyman merupakan suatu proses belajar yang kontinu yang melibatkan baik belajar secara emosional (emotional learning) maupun indoktrinasi politik yang manifes (nyata) dan dimediai (sarana komunikasi) oleh segala partisipasi dan pengalaman si individu yang menjalaninya. Rumusan ini menunjukkan betapa besar peranan komunikasi politik dalam proses sosialisasi politik di tengah warga suatu masyarakat. Tidaksalah jika dikemukakan bahwa segala aktivitas komunikasi politik berfungsi pula sebagai suatu proses sosialisasi bagi anggota masyarakat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam aktivitas komunikasi politik tersebut.

Dalam suatu sistem politik negara, fungsi sosialisasi belajar yang dahsyat menunjukkan bahwa semua sistem politik cenderung berusaha mengekalkan kultur dan struktur mereka sepanjang waktu. Hal ini dilakukan terutama melalui pengaruh struktur struktur primer dan sekunder yang dilalui oleh anggota muda pun. masyarakat dalam proses pendewasaan mereka.



Di dalam realitas kehidupan masyarakat, pola-pola sosialisasi politik juga mengalami perubahan seperti juga berubahnya struktur dan kultur politik. Perubahan-perubahan tersebut menyangkut pula soal perbedaan tingkat keterlibatan dan derajat perubahan dalam subsistem masyarakat yang beraneka ragam.

Pada sisi lain, sosialisasi politik merupakan proses induksi ke dalam suatu kultur politik yang dimiliki oleh sistem politik yang dimaksud. Hasil akhir proses mi adalah seperangkat sikap mental, kognisi (pengetahuan), standar nilai-nilai, dan perasaan-perasaan terhadap sistem politik dan aneka perannya serta peran yang berlaku. Hasil proses tersehut juga mencakup pengetahuan tentang nilai-nilai yang mempengaruhi, serta perasaan mengenai masukan tentang tuntutan dan claim terhadap sistem, dan outpl4t otoritatif-nya.

Proses sosialisasi politik dalam kaitannya dengan fungsi komunikasi politik berhubungan dengan struktur-struktur yang terlibat dalam sosialisasi serta gaya sosialisasi itu sendiri. Pada sistem politik masyarakat modern, institusi seperti kelompok sebaya, komunitas, sekolah, kelompok kerja, perkumpulan-perkumpulan sukarela, media komunikasi, partaip artai politik, dan institusi pemerintah sernanya dapatberperan dalam sosialisasi politik. Kemudian perkumpulan-perkumpulan, riasi-relasi, dan partisipasi dalam kehidupan kaum dewasa melanjutkan proses tersebut untuk seterusnya.

Dalam suatu bangsa yang majemuk dan besar seperti Indonesia, India, Cina, dan sebagainya, informasi yang diterima oleh aneka unsur masyarakat akan berlainan karena faktor geografis baik yang di kota maupun di desa. Pada sebagian besar negara berkembang, pengaruhrnediaj. (radio, surat kabar, dan televisi) di pedesaan sangat terbatas. Oleh karena itu, pengaruh struktur-struktur sosial tradisional dalam menerjemahkan informasi yang menjangkau wilayah tersebut amatlah besar. IJtero eriitsinformasi ini memperkuat perbedaan orientasi dan sikap (attitude) di antara kelompok-kelompok yang mengalami sosialisasi primer yang amat berbeda dan kelompok ataupun teman sebaya.

Berbeda dengan negara yang sudah maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, dan sebagainya, arus informasi relatif homogen. Para elite politik pemerintahan mungkin mempunyai sumbers umber informasi khusus frIalui badan-badan birokrasi tertentu, surat kahar tertentu yang ditujukan pada kelompok kelas atau politik tertentu. Dengan demikian, semua kelompok masyarakat mempunyai akses ke suatu arus informasi dan media massa yang relatif homogeny dan otonom sehingga hambatan-hambatan bahasa atau orientasi kultural sangat minim. Masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap para elite politik dan sehaliknya kaum elite pun dapat segera mengetahui tuntutan masyarakat dan konsekuensi dan segala macam tindakan pemerintah.
Sumber Pustaka: Yudhistira