Pengertian Abiotik Dan Faktornya

Pengertian Abiotik Dan Faktornya


Iklim dan faktor abiotik lainnYa merupakan penentu penyebaran organisme dalam biosfer. Sebagian besar organisme pada dasarnya memperoleh energi dan cahaya matahari. Selain im, organisme juga harus tahan terhadap perubahap suhu. kelembapan, kadar garam, dan cahaya dalam lingkungannya. Berikut mi akan diuraikan mengenai faktor abiotik penting yang dapat mempengaruhi penyebaran organisme.

Suhu

Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam penyebaran organisme. Suhu juaga berpengamh pada proses biologis dan pada ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu tubuhnya. Misalnya, sel-sel akan pecah apabila air yang terdapat di dalamnya membeku pada suhu di bawah 0°C dan protein yang terdapat pada sebagian besar organisme akan terdenaturasi pada suhu di atas 45°C. Selain itu, beberapa organisme dapat mempertahankan 2 metabolisme pada suhu yang sangat rendah atau suu yang sangat tinggi.



Adaptasi terhadap lingkungannya itulah yang membuat organisme tetap hidup. Suhu internal organisme sebenarnya dipengaruhi oleh pertukaran panas dengan lingkungannya dan sebagian besar organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih tinggi beberapa derajat di atas atau di bawah suhu lingkungannya. Hal tersebut umumnya terjadi pada hewan-hewan poikiloterni seperti ikan, rcptilia, dan amfibi.

Air

Air memiliki sifat-sifat unik yang berpengaruh terhadap organism dan lingkungannya. Air sangat penting bagi kehidupan, tetapi ketersediaannya di alarn sangat bervariasi. Organisme yang hidup di air tawar dan air laut biasanya mengalami keseimbangan air apabila tekanan osmosis intraselulernya tidak sarna dengan tekanan osmosis air di sekitamya. Sementara itu, organisme yang hidup di daratan biasanya mengalami masalah kekurangan air pada waktu musim kering sehingga beberapa organisme beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Cara adaptasi yang dilakukan antara lain menyimpan air dalamjumlah yang mencukupi, contohnya unta yang menyimpan cadangan air di punuknya.

Sinar Matahari

Matahari memberikan energi sehingga dapat menggerakkan seluruh ekosistem meskipun hanya tumbuhan dan organisme fotosintesik lain yang menggunakan sumber energi mi secara langsung. Intensitas cahaya matahari bukan merupakan faktor terpenting yang membatasi pertumbuhan tanaman di lingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi hutan membuat persaingan untuk mendapatkan sinar matahari di bawah kanopi tersebut menjadi sangat ketat. Dalam Iingkungan akuatik, intensitas dan kualitas cahaya membatasi penyebaran organisme fotosintetik. Setiap meter kedalaman air akan menyerap sekitar 45% cahaya rnerah dan 2% cahaya biru yang melaluinya sehingga akhirnya sebagian besar proses fotosintesis di lingkungan akuatik terjadi di dekat perrnukaan air. Hal mi terjadi karena organisme fotosintetik itu sendiri menyerap banyak cahaya yang menembus air dan selanjutnya akan mengurangi intensitas serta kualitas cahaya pada air di bawahnya.

Selain itu, cahaya ternyata juga penting bagi perkembangan dan perilaku hewan dan tumbuhan yang sensitifterhadap fotoperiode, yaitu jumlah panjang relatif antara siang dan malam han. Fotoperiode merupakan suatu indikator, yang lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan suhu terutama dalam memberi petunjuk mengenai kejadian, seperti pembungaan atau migrasi hewan.

Mineral

Makhluk hidup memerlukan banyak mineral untuk digunakan sebagai bahan pembangun protoplasma. Misalnya, unsur C, H, 0, dan N sebagai penyusun senyawa protein karena protein merupakan bahan pembangun atau pembentuk protoplasma. Selain itu, mineral juga dapat mempengaruhi konsentrasi protoplasma sehingga konsentrasi protop lasma dapat berubah-ubah. Apabila kekurangan salah satu unsur mineral tersebut, organisme akan mengalami gangguan, misalnya tumbuhan apabila kekurangan unsur Fe, warna daunnya menjadi pucat karena Fe diperlukan sebagai katalisator pada pembentukan klorofil.

Unsur-unsur pembentuk tubuh hewan dan tumbuhan, umumnya diperoleh dan lingkungan dengan mengalami pertukaran yang tetap dan unsur-unsur tersebut.

Derajat Keasaman (pH)

Keasaman dapat mempengaruhi makhluk hidup karena makhluk hidup umumnya memerlukan lingkungan dengan pH netral. Makhluk hidup tidak dapat hidup di lingkungan yang terlalu asam atau basa karena makhluk hidup umumnya peka terhadap perubahan pH di sekitarnya. Misalnya, tanaman dapat tumbuh pada tanah dengan pH tertentu, sedangkan kesuburan tanah juga ditentukan oleh pH tanah. Oleh karena itu, pH tanah dapat mempengaruhi persediaan unsur hara untuk tanaman.

Salinitas (kadar aram)

Setiap organisme memiliki kepekaan yang berbeda terhadap salinitas. Hal itu berhubungan dengan lingkungan organisme itu berada. Misalnya, ikan air tawar apabila masuk ke air laut yang berkadar garam tinggi harus melakukan adaptasi pada tubuhnya untuk menyesuaikan din dengan air laut. Hal yang ama juga terjadi pada ikan laut yang harus hidup di air tawar. Oleh karena itu, salinitas sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup.

Angin

Angin dapat memperkuat pengaruh suhu lingkungan pada organisme dengan cara meningk atkan hilangnya panas melalui pengitapan (evaporasi) dan konveksi (pendinginan oleh angin). Selain itu, anginjuga dapat menyebabkan hilangnya air pada organisme dengan cara meningkatkan laju penguapan pada organisme dan laju transpirasi pada tumbuhan.

Batudan Tanah

Struktur fisik, pH, dan komposisi mineral batuan serta tanah akan membatasi penyebaran tumbuhan dan hewan yang memakannya sehingga dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya pola pengelompokan di suatu area tertentu secara acak pada ekosistem terestrial. Pada aliran sungai, komposisi substrat dapat mempengaruhi faktor kimiawi dalam air, kemudian hal tersebut juga akan berpengarub terhadap tumbuhan dan hewan penghuni ekosistem akuatik.
Sumber Pustaka: Ganeca Exact