Pengertian Permintaan Uang Dan Contohnya

Permintaan Uang


Uang sebagai alat tukar secara umum nilainya dinyatakan dalam sejumlah barang dan jasa. Jadi, nilai uang adalah daya beli uang terhadap barang dan jasa pada umumnya. Artinya, nilai uang ditetapkan oleh berapa banvak barang dan jasa yang dapat dibeli dengan uang itu. Misalnya, lima tahun yang lalu dengan uang Rp4.000.OO dapat diperoleh beras sebanyak 2 kg. Saat ini dengan kualitas beras yang sama hanya diperoleh 1 kg beras. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa dalam masa 5 tahun daya beli uang turu dua kali lipat.

Turun-naiknya harga barang dalam beberapa tahun mungkin disebabkan oleh nilai barang dan mungkin juga oleh nilai uang. Untuk menentukan penyebabnya harus diamati, apakah harga satu atau beberapa macam barang saja yang harganya berubah. Apabila semua harga berubah dapat dikatakan nilai uang yang berubah. Pada kenyataannya nilai uang sering mengalaini perubahan. Teori yang membahas perubahan nilai uang ini adalah teori jumlah (teori kuantitas) yang telah dibahas di atas.



Teori kuantitas menunjukkan harus adanya keseimbangan antara jumlah uang yang beredar dengan berbagai faktor yang ikut mempengaruhinya inisalnya, kecepatan peredaran uang baik uang kartal maupun uang giral, lamanya uang itu tersimpan, dan jumlah pendapatan nasional. Secara sederhana teori yang paling mendekati berapa besarnya jumlah uang yang dihutuhkan adalah Teori Kuantitas yang dikemukakan oleh Marshall dengan rumus:

M = k.PT

Keterangan:

M = jumlah uang yang dibutuhkan
PT = jumlah nilai transaksi (pendapatan nasional)
k = konstanta

Contoh apabila pendapatan nasional berjumlah Rp300 triliun, sedangkan masyarakat pada umumnya memegang uang 30% dan jumlah transaksi tiap tahun dalam bentuk uang, maka jumlah uang yang beredar menjadi 0,30 x Rp300 triliun = Rp90 triliun.

Dalam ekonoini moneter kiasik, T dan k dianggap relatiftetap, karenaT tergantung pada kapasitas produksi nasional (yang relatif stabil) dan k terganrung pada kebiasaan pembayaran dalam masyarakat (juga relatif stabil). Jadi hubungan yang paling dasar adalab antara M dan P. Umumnya jika M naik, P akan naik secara proporsional.

Pada negara berkembang, tujuan kebijakan moneter bukan hanya stabilitas uang saja, tetapi untuk menyediakan jumlah uang yang sesuai dengan laju pembangunan yang cepat. Dan sudut pembangunan, tingkat inflasi positiflebih baik daripada deflasi ataupun dalam keadaan stabilitas harga yang sempurna. Dalam persamaan di atas jelas bahwa apabila M naik dengan kecepatan yang sama dengan T (k dianggap stabil), P akan tinggal tetap stabil; karena itu M harus dinaikican lebih cepat dan tingkat kenaikan produksi riil (T). Jadi jika sasaran pertumbuhan ekonoini (T) ditetapkan 15% dan tingkat inflasi yang optimal adalah 5%, maka tingkat kenaikan jumlah uang (M) harus sama dengan tingkat kenaikan T ditambah dengan target inflasi.

Jadi pertambahan M = 15% + 5% = 20%. Apabila kita butuhkan kenaikan M = 20%, maka jumlah uang yang dibutuhkan menjadi:

M = 30% x (300 triliun + 20% x 300 triliun)
= 0,30 x 360 triliun
= 108 triliun

Artinya pendapatan nasional menjadi Rp360 triliun dan uang yang beredar (dibutuhkan) menjadi Rp108 tniliun. Kenyataannya uang yang beredar tidak hanya sam kali (konstan), sebab semakin cepat laju pertumbuhan semakin cepat peredaran uang. Apabila unsur kecepatan peredaran uang diperhitungkan maka jumlah uang yang beredar akan dipengaruhi oleh multiplier (pengganda) maka rumus Marshall tidak benlaku. Apabila dan contoh di atas uang beredar berputar 3 kali maka jumlah uang yang beredar menjadi 3 x Rp108 triliun = Rp324 triliun.
Sumber Pustaka: Yudhistira