Macam-Macam Tarian Daerah Dan Asalnya

Macam-Macam Tarian Daerah Dan Asalnya


Di beberapa daerah di Indonesia, seperti Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Kalimantari, rangkaian upacara adat dilengkapi dengan tari-tarian, inisalnya pada upacara kelahiran, potong gigi, potong rambut yang pertama, kedewasaan, perkawinan, bahkan sampai kematian. Baik upacara keagamaan maupun adat mempunyai sifat sakral atau suci, bahkan ada pula yang mengandung kekuatan magic, seperti tari Sanghyang dan tari Barong dan Bali, tari kelahiran dari Irian Jaya (Papua), tari mendatangkan hujan dan Nusa Tenggara Timun, dan sebagainya. Untuk menambah perbendaharaan dan luasnya wawasan, maka benikut ini jenis tarian Nusantara dan daerah asalnya meskipun hanya mewakili sedikit yang tampak dan sekian banyak jenis tari Nusantara lain yang masih tersembunyi.



Tarian dan Sulawesi (Termasuk Bugis)


Di Makassar terdapat jenis tari pergaulan yang ditarikan oleh penari tunggal maupun kelompok, dalam arti dimainkan oleh kelompok perempuan atau laki-laki (tidak ada kelompok laki-laki dan perempuan jadi satu). Tari tersebut antara lain sebagai berikut.
  1. Tari Pajaga.
  2. Tari Pagelu.
  3. Tari Bosara.
  4. Tari Pakarena Burakne (pasangan/kelompok laki-laki).
  5. Tari Pakarena Baine (pasangan /kelompok perempuan).
Tari Pakarena termasuk tari ritual yang menggambarkan tentarig kehalusan putrid Makassar. Kelembutari gerak pada tari ini memiliki keininipan dengan tari Bedhaya dan Srimpi Jawa atau tari yang menggambarkan kehalusan (budi) wanita Jawa.

Tarian dan Papua


Di wilayah Papua terdapat upaya rekonstruksi, misalnya tari Wor dan Insoskabor di wilayah budaya Saireni atau tari Ethor di wilayah budaya pantai selatari. Upaya pelestarian tari Papua oleh generasi saat ini merupakan wujud kepedulian generasi muda terhadap kehidupan seni tradisi warisan leluhur mereka.

Tarian dan Melayu


Tari Serampang Dua Belas merupakan sebuah karya baru dan Sauti yang menerobos tatarian tari tradisi dengan membiat pola gerak, pola edar, dan tata urutari. Meskipun menyimpang dan kebiasaan dalam tari Ronggeng maupun Zapin, tetapi masyarakat Melayu menenima dan menyukainya sebagai karya tari Melayu. Tari ini merupakan tari yang berbentuk pasangan. Fungsi tari ini adalah sebagai tontonan yang bersifat hiburan.
Sumber Pustaka: Yudhistira