Mengembangkan Sikap Kekeluargaan Dalam Melaksanakan Demokrasi Ekonomi

Mengembangkan Sikap Kekeluargaan Dalam Melaksanakan Demokrasi Ekonomi



Ekonomi liberal yang menonjolkan individualisme ternyata tidak memberikan kemerdekaan dan kemakmuran bagi semua orang. Sistem mi tidak memberikan keserasian dalam perekonomian, tetapi menimbulkan pertentangan dan kesengsaraan, karena yang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin. Ekonomi liberal memberikan kemerdekaan dan kekayaan kepada sekelompok kecil saja, dan tidak kepada masyarakat banyak.

Komunisme juga tidak berhasil memberikan kemakmuran dan kesejahteraan yang sejati kepada manusia, karena ia mengabaikan hak-hak asasi manusia. Sistem ekonomi komunis adalah sistem ekonomi terpimpin totaliter yang seluruhnya dikuasai oleh negara dan seluruhnya terpimpin dan pusat. Negara Indonesia tidak menganut ekonomi liberal maupun ekonomi komunis. Negara Indonesia mempunyai sistem tersendiri. Hak milik perseorangan diakui tetapi pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.


Untuk melaksanakan semangat pasal 33 UUD 1945, ada tiga lembaga atau organisasi perekonomian yang dapat dilaksanakan.

Koperasi

Koperasi adalah lembaga ekonomi yang berwatak sosial, yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum, berfungsi sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi selanjutnya diatur melalui UU No. 79 tahun 1958 yang kemudian disempurn akan melalui UU No. 12 tahun 1967 dan telah disempurnakan melalui UU No. 25/1992. Menurut Undang-undang tersebut, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

Bapak koperasi Indonesia adalah Drs. Muhammad Hatta. Beliau mengemukakan lima asas atau panca asas koperasi, yaitu sebagai berikut.
  1. Asas demokrasi kooperatif
  2. Asas persamaan
  3. Asas bersekutu secara sukarela
  4. Asas demokrasi ekonomi
  5. Asas pendidikan.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Seperti yang dikehendaki oleh pasal 33 ayat (2) UUD 1945, untuk menjamin kepentingan hajat hidup orang banyak beberapa jenis bidang usaha dan produksi langsung diusahakan dan dikelola oleh negara. Badan usaha milik negara (BUMN), misalnya:
  • Perusahaan Air Minum (PAM)
  • Perusahaan Listrik Negara (PLN)
  • Pertamina
  • Perumka, dan sebagainya.

Usaha Swasta (Wiraswasta)

Dunia usaha swasta nasional harus diberi kesempatan berkembang agar dapat meningkatkan partisipasi masyarakat yang lebih aktif dalam pembangunan. Untuk itu, perlu dijalin hubungan keijasama yang baik antara pemerintah, yaitu BUMN, dunia usaha swasta, dan koperasi. Di samping itu, pembinaan usaha golongan ekdnomi lemah perlu lebih diperhatikan.

Bagi mereka sangat layak diberikan berbagai kemudahan kredit untuk mmeningkatkan usaha mereka. Mereka juga perlu diberi penvuluhan dan bantuan dan tenaga ahli. Dengan demikian, dalam perekonomian kita akan terbukti bahwa asas kekeluargaan dan sikap gotong royong telah menyatu dengan sikap hidup kita sebagai bangsa Indonesia.
Sumber Pustaka: Erlangga