Peranan Ulama Islam Pada Masa Perang Kemerdekaan RI

Peranan Ulama Islam Pada Masa Perang Kemerdekaan


Para ulama memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong umat Islam untuk berpartisipasi dalam perjuangan pada masa perang kemerdekaan. Para ulama adalah orang-orang Islam yang mendalami ilmu agama, sehingga mereka menjadi tempat bertanya umat, dan sekaligus menjadi panutan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Ulama itu bagaikan pelita (obor) di muka bumi, sebagai pengganti para Nabi dan sebagai pewaris paran Nabi.” (H.R. Ibnu Adi dan Mi bin Abi Thalib)



Peranan ulama Islam Indonesia pada masa perang kemerdekaan ada dua macam:
  • Membina kader umat Islam, melalui pesantren dan aktif dalam pembinaan masyarakat. Banyak santri tamatan pesantren kemudian melanjutkan pelajarannya ke Timur Tengah, dan sekembalinya dan Timur Tengah, mereka menjadi ulama besar dan pimpinan perjuangan. Di antaranya adalah: K.H. Ahmad Dahian, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Halim, H. Agus Salim, dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah.
  • Turut berjuang secara fisik sebagai pemimpin perang.
Para pahiawan Islam yang telah berjuang melawan imperialis Portugis dan Belanda, seperti: Fatahillah, Sultan Baabullah, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan Habib Abdurrahman, adalah juga para ulama yang beriman dan bertakwa, yang berakhlak baik dan bermanfaat bagi orang banyak sehingga mereka menjadi panutan umat.

Demikian juga pada masa penjajahan Jepang, banyak para ulama yang berperang memimpin bala tentara Islam melawan imperialis Jepang, demi menegakkan martabat dan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Mereka itu antara lain: Mohammad Daud Beureuh (pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan K.H. Zaenal Mustafa (pemimpin pesantren Sukamanah di Singaparna, Jawa Barat).
Sumber Pustaka: Erlangga