Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan


Berikut ini adalah persiapan, pembahasan dan pengesahan peraturan perundang-undangan.

Persiapan Pembentukan Undang-Undang

  1. Rancangan undang-undang baik yang berasal dan Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden, maupun dan Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional.
  2. Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah seperti tersebut di atas adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonoini lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
  3. Dalam keadaan tertentu, Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar program legislasi nasional.

Rancangan undang-undang yang diajukan oleh presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen, sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Pengharmonisan, pembulatan, dan pem antapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dan presiden, dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Rancangan undang-undang yang berasal dan Dewan Perwakilan Rakyat diu sulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan rancangan undang-undang yang berasal dan Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Rancaiigan undang-undang yang telah disiapkan oleh presiden diajukan dengan surat presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam surat presiden tersebut ditegaskan antara lain tentang materi yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang tersebut dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak surat presiden ditenima. 

Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwaidlan Rakyat, menteni atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperban naskah rancangan undaiig-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan, Dewan Perwakilan Rakyat kepada presiden. Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 han sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. Menteri yang dimaksud di atas mengoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan.

Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dan Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dan presiden dilaksanakan oleh instansi pemrakarsa. Apabila dalam satu masa sidang, Dewan Perwakilan Rakyat dan presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang di Dewan Perwakilan Rakyat



Pembahasan rancangan undang-undang di DPR dilakukan oleh DPR bersama presiden atau menteri yang ditugasi. Pembahasan rancangan undang-undang tersebut yang berkaitan dengan otonoini daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonoini lainya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan Daerah. Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan RUU tersebut hanya pada rapat koinisi/panitialalat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. Keikutsertaan DPD dalam pembahasan RUU tersebut diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud di atas dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud di atas dilakukan dalam rapat koinisi! panitia/alat kelengkapan DPR yang khusus menahgani bidang legislasi dan rapat paripurna. Dewan Perwakilan Rakyat memberithukan DPD akan dimulainya pembahasan RUU.

Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama. Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPR dan presiden. RUU yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan presiden.

Pengesahan Rancangan Undang-Undang



Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan presiden, disampaikan oleh pimpinan DPR kepada presiden untuk disahkan menjadi nndang-undang. Penyampaian rancangan undang—undang tersebut dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 han terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. RUU tersebut disahkan oleh presiden dengan membubihkan tanda tangan dalamjangka waktu paling lambat 30 han sejak RUU tersebut disetujui bersama oleh DPR dan presiden.

Dalam hal RUU tersebut tidak ditandatangani oleh presiden dalam waktu paling larnbat 30 han sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib diundangkan. Dalam hal sahnya RUU tersebut, maka kalimat pengesahannya berbunyi: Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud tersebut harus dibubuhkan pada halaman terakhir undang-undang sebelum pengundangan naskah undang-undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Wah, ternyata pembuatan peraturan penindang-undangan tidak semudah membalik telapak tangan. Semua itu membutuhkan suatu proses yang cukup panjang. 
Sumber Pustaka: Cempaka Putih