Hikmah Syukur Nikmat Kepada Allah SWT

Hikmah Syukur Nikmat Kepada Allah SWT



“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Allah swt. mengingatkan kembali hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Kemudian dilaksanakan-Nya, betapa faedah dan keutungan yang diperoleh setiap orang yang banyak bersyukur kepada-Nya, yaitu bahwa Dia akan senantiasa menambah rahmat-Nya kepada mereka. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka.



Mensyukuri nikmat Allah, pertama ialah dengan ucapan yang setulus hati, kemudian diiringi pula dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat tersebut dengan cara dan untuk tujuan yang diridai-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka mengintakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara, bahkan sebaliknya, rezekinya senantiasa bertambah, dan kekayaannya makin meningkat dan hidupnya bahagia, dicintai dan dihormati dalam pergaulan. Sebaliknya orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah. seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak cepat bertambah, bahkan lekas menyusut. Oleh karena itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, sehingga kehidupan akhiratnya jauh dan ketenangan dan kebahagiaan.

Syukur kepada Allah tidaklah sia-sia, akan tetapi Allah berjanji akan senantiasa menambah nikmat-Nya kepada orang yang bersyukur. Sedangkan orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah, maka ia disebut kufur nikmat, dan kepadanya akan diberikan siksa yang pedih. Karena itu, kita wajib bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, dengan jalan memanfaatkan pemberian itu secara baik dan efisien untuk kepentingan hidup manusia lahir batin.

Dengan mendasarkannya pada ajaran dan nilai-nilai agama yang berakar kebudayaan Indonesia. Misalnya, memanfaatkan lingkungan hidup dengan mengadakan penghijauan, bukan hanva keindahan yang kita peroleh, tetapi kesejukan dan kesehatan serta mengurangi polusi udara. Sebaliknya, jika kita berbuat semena-mena terhadap lingkuhgan maka akibatnya akan menimpa kita sendiri. Itulah salah satu contoh mensyukuri nikmat, akan lebih banyak kenikmatan yang diperoleh.
Sumber Pustaka: Bumi Aksara