Makna Perbuatan Jujur Didalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara

Makna Perbuatan Jujur Didalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara



Dalam seluruh kehidupannya manusia melakukan serangkaian perbuatan atau tindakan yang diniatkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kesesuaian antara niat yang tercetus di dalam hati nurani dengan perbuatan yang dilakukan (perkataan dan tindakan), disebut kejujuran. Suatu ketidakjujuran merupakan pengingkaran terhadap hati nurani (budi) atas perbuatan yang dilakukannya.



Makna Perbuatan Jujur Didalam Kehidupan


Kejujuran merupakan bagian dan etika(kesusilaan), yang bersumber dan hati nurani (budi) manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai suatu norma moral(kesusilaan), kejujuran menyangkut persoalan antara hal van seharusnva (das Sollen) denn hal yang senyatanya (das Sein). Ap yang dituntut dari suatu pernyataan norma moral kejujuran yaitu suatu keharusan melakukan perbuatan yang sesuai menurut tuntutan budi (hati nurani) dan kaidah moral, sehingga suatu perbuatan bemilai baik, jujur.

Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering dihadapkan pada suatu pertanyaan: “Mengapa dalam kehidupan mi seringkali terjadi orang yang berbuat baik menurut ukuran etika, justru memperoleh akibat yang tidak menyenangkan, sedangkan yang berbuat sebaliknya hidupnya senang”. Atau; “Orang yang jujur dan baik dalam melakukan pekerjaan tetap saja miskin, sedangkan orang yang korup, manipulasi, kolusi, dan sebagainya, bisa kaya dan dapat menikmati kesenangan hidup.”

Fakta mendasar yang terciapat dalam kehidupan manusia dalam seluruh aspekkehidupannya tergantung pada norma; agama, susila, kesopanan, dan hukum. Norma moral atau etika, mewajibkan manusia secara mutlak, tetapi juga tidak memaksa orang. Dalam hal mi terdapat makna kebebasan: bebas untuk memilih, untuk mau taat, untuk masa bodoh, bahkan dapat menentang norma/kaidah moral.

Norma moral terus menerus mendorong manusia untuk menaati perintah norma, sebagai suatu keharusan, tetapi orang bisa saja menentang norma moral. Pada suatu ketika/kondisi dapat dikerjakan, tetapi pada lain waktu tidak dapat dilakukan. Apabila manusia melanggar norma moral, ia tahu bahwa ia berbuat buruk, ia ditegur oleh hati nuraninya dan penyesalan akan selalu menyelimuti hatinya.

Norma moral berfungsi mewajibkan, oleh karena itu terbebas dan kemauan manusia. Manusia tidakmenguasai norma moral tetapi norma moral menguasai kita, tanpa menghiraukan kehendak atau kemauan kita.

Norma moral bersifat kategoris, tidak bersyarat. Perintah “jangan membunuh”, “jangan menipu”, “jangan mencuri”. bukan dimaksudkan sebagai aturan yang bersyarat, melainkan mutlak dan tidak bersyarat. Pada iiorma mnral tidak dikatakan: “jangan inenipu apabila ingin mencapai suatu tujuan tertentu.” Hal mi berarti berlaku dalam segala waktu dan kondisi, tidak tergantung pada suatu tujuan tertentu. Sifat tidak bersyarat tersebut sangat terasa dalam perkataan wajib, yaitu suatu ungkapan khas norma moral yang merupakan suatu ikatan yang membebaskan. Kita akan terikat pada keharusan untuk melaksanakan suatu kewajiban, tetapi  justru jika kita telah melaksanakannya, akan merasa ringan dan terbebas dan kewajiban beban apapun.

Suatu perintah kesusilaan tidak berasal dan pengalaman, melaiikan berasal dan kenyataaan yang transenden. Jangan mencuri, jangan membunuh, jangan berbohong, jangan memperkosa hak orang, jangan berlaku tak jujur, dan sebagainya bukan berdasarkan pengalaman. Walaupun dikatakan; “Janganlah berlaku tak jujur dan menipu karena akan merugikan orang ataumasyarakat”, tetapi jelaslah bahwa perintah moral semacam itu tidak memperhitungkan akibata kibat yang mungkin ditimbulkannya. Dalam hal mi maka ditekankan sifat keharusannya. Apabila suatu pemyataan etika juga bersifat menekankan pada aspek tujuan, bukan berarti menekankan pada akibat-akibat langsung atas suatu perbuatan manusia, melainkan bertujuan membentuk manusia yang utuh, atau mengembalikan pada harkat kemanusiaan yang sebenarnya.

Berhubungan dengan kejujuran sebagai norma moral, maka orang yang jujur ada kemungkinan akibat yang diterimanya justru belum merupakan akibat yang diharapkan sebagai konsekuensi dan perbuatan jujur yang dilakukannya. Ada kalanya dalam kehidupan manusia, suatu perbuatan baik “dicela” dan perbuatan buruk “dipuji”. Jujur bisa berarti selamat, tetapi toh selamat tidak bararti bermanfaat. Sebagaimana dicontohkan di atas; orang yang jujur dan baik dalam melakukan pekerjaan tetap saja miskin, tetapi orang yang korup kok malah kaya dan bias menikmati kenikrnatan hidupnya. Dengan demikian dalam kehidupan bermasyarakat, pelaksanaan norma etika (misalnya kejujuran) hams dilandasi norma-norma lainnya. Norma agama, norma kesopanan, dan norma hukum sehingga suatu norma moral secara operasional dapat secara tegas berlaku dalam masyarakat, dengan dilengkapi sanksi (pembalasan perbuatan di akhirat (norma agama), pengucilan (norma kesopanan), dan hukuman perdata/pidana (norma-hukum)).

Kejujuran sebagai salah satu perintah norma moral bermakna membentuk manusia secara utuh dan mengembalikan harkat kemanusiaan yang sebenarnya, yaitu manusia sebagai makhluk Tuhan yang berakal dan berbudi luhur, sehingga hams menempatkan perbuatan jujur dalam kehidupannya baik pada din sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara.
Sumber Pustaka: Bumi Aksara