Faktor-Faktor Penghambat Pembangunan Demokrasi Pancasila

Faktor-Faktor Penghambat Pembangunan Demokrasi Pancasila



Di samping ada faktor-faktor pendukung terhadap terselenggaranya Demokrasi Pancasila di Indonesia, terdapatjuga faktor-faktor penghambat yang menjadi kendala, yaitu:
  1. Di dalam masyarakat Indonesia masih ada yang menganut atau mengakui kebenaran sesuatu ideologi baik ideologi ekstrim kini maupun ideology ekstrim kanan, yang mengganggu pelaksanaan demokrasi Pancasila secara murni dan konsekuen.
  2. Kesadaran hukum di dalam masyarakat terhadap Pancasila. UUD 1945 dan Perundang-undangan lainnya masih belum merata dan menyeluruh, sehingga masih terdapat penyalahgunaan wewenang ataupun main hakim sendiri.
  3. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat dan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
  4. Di dalam masyarakat Indonesia secara psikologis dan karakteristik masih terdapat sikap-sikap feodal, sikap paternalistik atau kebapaan. sikap otoriter, dan sikap demokratik.
  5. Di masyarakat Indonesia masih sering terjadi gejolak-gejolak yang bernuansa SARA (Suku. Agama, Ras dan Aliran Kepercayaan) yang dapat menimbulkan keresahan-keresahan sosial yang dapat mengakibatkan ketegangan-ketegangan politik.
  6. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih rendah.

Demokrasi muncul sebagai satu sistem pemerintahan rakyat karena adanya pemerintahan diktator yang otoriter yang membawa akibat buruk bagi rakyat. Akibat-akibat buruk tersebut antara lain penindasan dan eksploitasi terhadap tenaga dan pikiran rakyat sehingga rakyat seolah hanya punya kewajiban tanpa hak. Sebaliknya, pemerintah atau penguasa tampak seolah-olah hanya punya hak tanpa kewajiban. Kondisi demikian selalu mengakibatkan timbulnya konflik dengan korban yang lebih banyak dan pihak rakyat. Selain itu, kesejahteraan hanya tertumpu pada para penguasa sedangkan rakyat dibiarkan hidup melarat tanpa jaminan masa depan.

Faktor-faktor tersebut melatarbelakangi ide pemerintahan yang demokratis untuk menjamin kesejahteraan rakyat banyak secara merata. Cita-cita kesejahteraan hidup setiap kelompok masyarakat senantiasa tergambar dalam falsafah hidupnya. Misalnya, cita-cita kesejahteraan hidup bangsa Indonesia tersurat dalam falsafah Pancasila sebagai masyarakat yang adil dan makmur, serta merata secara material dan spiritual.
Sumber Pustaka: Ganeca Exact