Gerakan Protes Petani Terhadap Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda

Gerakan Protes Petani Terhadap Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda



Gerakan protes petani merupakan sebuah gerakan yang dilakukan para petani sebagai ungkapan protes terhadap perilaku atau kebijakan yang dilakukan pemerintah kolonial dan penguasa tanah partikelir. Gerakan perlawanan petani disebabkan hal berikut.



  1. Para petani sangat membenci pemberlakuan pungutan pajak.
  2. Para penguasa menerapkan sanksi yang sewenang-wenang, inisalnya para petani yang tidak membayar pajak harus menyerahkan tanah, rumah, dan hewan ternaknya.
  3. Adanya praktik perbudakan dan kerja paksa, seperti kewajiban membawa hasil panen dan sawah ke lumbung padi milik penguasa tanpa mendapat upah.
  4. Adanya kerja paksa pada perkebunan-perkebunan dan pabriknya.
  5. Para petani sangat muak menyaksikan kemewahan hidup yang ditunjukkan kaum bangsawan, misalnya pesta-pesta atau dansa-dansa.
  6. Keinginan untuk mengembalikan kejayaan, kesejahteraan, dan ketenteraman hidup seperti sebelum kedatangan penguasa asing.
  7. Adanya keyakinan bahwa Ratu Adil akan membebaskan mereka.


Daerah-daerah yang pernah menjadi tempat terjadinya gerakan protes petani, yaitu Ciornas (Bogor), Condet (Jakarta), dan Tangerang.

Gerakan Protes Petani di Cionias (Bogor)


Masyarakat Ciomas yang menetap di sekitar lereng Gunung Salak tidak mau menerima perlakuan para tuan tanah yang melakukan praktik pemerasan dan penindasan. Mereka meninggalkan tempat untuk menghindari pungutan pajak yang memberatkannya.

Seorang petani Ciomas yang bemama Arpan berusaha menggalang persatuan untuk melakukan protes terhadap tuan tanah dan pemerintah. Pada Februari 1886 mereka melakukan penyerangan terhadap Camat Ciomas, Abdurrakhim. Setelah itu mereka mundur ke daerah Pasir Paok. Tokoh petani lain, Mohammad Idris berhasil menghimpun para petani yang sangat marah kepada para tuan tanah dan agen-agennya. Mohammad Idris dan teman-temannya mengadakan serangan mendadak kepada para tuan tanah yang sedang menyelenggarakan pesta sedekah buini pada 20 Mei 1886.

Gerakan Protes Petani Di Condet (Jakarta)


Perlawanan petani Condet bermula dan keluarnya peraturan yang memberi hak kepada para tuan tanah untuk mengadili para petani yang tidak membayar pajak. Akibatnya, banyak petani yang bangkrut setelah hartanya disita, dijual, atau dibakar. Namun, para petani tidak tinggal diam. Mereka berusaha mengatasi kemungkinan mendapat hukuman dan para tuan tanah dengan mengikuti latihan bela din yang dipimpin Entong Gendut, Maliki, dan Modin. Anggota perkumpulan ini semakin hari semakin bertambah sehingga keberanian menentang penguasa menjadi besar.

Pada 5 April 1916 Entong Gendut dan para petani mengacaukan suasana pesta dan perjudian yang berlangsung di villa milik Lady Rollison. Kejadian ini diketahui wedana dan mantri polisi setempat. Mereka kemudian mendatangi rumah Entong Gendut untuk menanyakan sebab-sebab ia melakukan kekacauan. Entong Gendut tidak menjawab, bahkan ia menyatakan dirinya sebagai raja muda iang akan menyelamatkan nasib rakyat jelata. Ketika mereka hendak menangkap, segerombolan orang keluar dan semak-semak dan menyerbu para petugas pemerintahan. Dalam kerusuhan itu, wedana setempat berhasil ditangkap.

Gerakan Protes Petani di Tari gerang


Timbulnya perlawanan para petani di Pangkalan (Tangerang) dimulai dan keinginan Kahn dan Sairin mengembalikan kejayaan Kerajaan Banten. Mereka berupaya merebut tanah-tanah milik para tuan tanah untuk dibagikan. Munculnya keberanian para petani di wilayah tersebut dilandasi keyakinan bahwa para peinimpin mereka memiliki ilmu kawedukan dan keslameƤn. Selain itu, para petani juga dibekali jimat untuk memperoleh kekebalan tubuh.

Pada 19 Februari 1924, Kaiin dan para pengikutnya menyerang para tuan tanah. Kantor tuan tanah Kampung Melayu dijarah dan buku-buku serta dokumennya dibakar. Penyerangan dilanjutkan kepada Asisten Wedana Teluknaga. Mereka terus bergerak menuju Jakarta. Akan tetapi, gerakan mereka terhambat di Tanah Tinggi sehingga mereka banyak yang tertembak oleh peluru para polisi Belanda.
Sumber Pustaka: Yudhistira