Membina Dan Melestarikan Nilai Luhur Budaya Daerah Dalam Rangka Pengembangan Budaya Bangsa

Membina Dan Melestarikan Nilai Luhur Budaya Daerah Dalam Rangka Pengembangan Budaya Bangsa



Pada prinsipnya semua kebudayaan daerah dapat menjadi kebudayaan nasional, tolak ukurnya yaitu nilai-nilai Pancasila. Hal ini berarti kebudayaan daerah yang bersifat keagamaan yang memupuk ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat menunanikan jiwa kemanusiaan, memperkuat rasa persatuan, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, mencintai keadilan, dan meningkatkan taraf kehidupan jasmani dan rohani, perlu dipelihara dan dikembangkan menjadi kebudayaan nasional.

Kemajuan teknologi komunikasi mungkinkan peningkatan pembinaan danpengembangan kebudayaan daerah ke arah kebudayaan nasional. Penyiaran kebudayaan daerah melalui radio, film, atau televisi secara berkala akan dapat mempermudah pengenalan dan penyebarluasafl kebudayaan daerah ke seluruh penjuru tanah air.



Kesadaran ke arah perwujudan kebudayaan nasional berakar pada pengalaman sejarah bangsa kita dan waktu ke waktu. Tema tari-tarian dan seni sastra banyak menampilkan persamaan antara kebudayaan daerah yang satu dan kebijdayaan daerah yang lain. Proses tumbuhnya kesadaran akan adana persamaan itu makin tampak ketika bangsa kita memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan yang telah dicapai bangsa, menghadapkan kita kepada masalah integrasi kebudayaan sebagai kibat tumbuhnya kesadaran sebagai suku bangsa. Kenyataan bahwa bangsa kita terdiri atas berbagai suku yang hidup dalam kesatuan wiiayah dengan kebudayaan yang telah berkembang dalam kurun waktu berabad-abad lamanya. UUD 1945 pasal 32 menuntut pemerintah untukmemajukan kebudayaan nasional Indonesia. Dalam penjelasan pasal itu dinyatakan, kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai budi daya rakyat Indonesia seluruhnya.

Kebudayaan lama dan ash yang ada sebagai puncak kebudayaan daerah di seluruh Indonesia merupakan kekayaan kebudayaan bangsa. Usaha pengembangan kebudayaan hams menuju ke arah kemajuan adab budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan barn dan kebudayaan asing yang dapat mengembangkan atau memperkaya khasanah kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Kepulauan Indonesia terletak pada posisi silang sehingga hubungan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihindari. Masuknya pengaruh asing ke dalam wilayah Indonesia tidak dapat dielakkan, kita tidak menolak pengaruh kebudayaan asing itu, kita menerimanya jika keb udayaan itu dapat mengembangkan kebudayaan nasional dan meninggikan derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Tradisi dan peninggalan sejarah juga hams dibina dan dikembangkan sebagai suatu kebanggaan, yang manfaatnya dapat memperkaya kebudayaan nasional. Sehubungan dengan itu, kita perlu melakukan hal-hal berikut ini.
  • Kita harus turut mengembangkan kebudayaan daerah kita masing-masing dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional. Hal ini beranti kita;
  1. menerima dan menghormati bahwa setiap suku meiniliki kebudayaan daerahnya masingm asing,
  2. menyadari bahwa kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah,
  3. menginsyafi bahwa kebudayaan nasional adalah kebanggaan, sumber inspirasi, dan kreativitas bangsa Indonesia.
  • Kita hams ikut memelihara warisan budaya masa lampau dan menyesuaikannya dengan kehidupan modem. Hal ini berarti kita harus;
  1. memahaini bahwa pemugaran bangunan kuno, pemugaran candi, dan pemeliharaan benda budaya lainnya mengandung nilai kesinambungan masa lampau dan masa kini,
  2. membangkitkan kesadaran sejarah dan kebudayaan sendiri pada generasi muda,
  3. menyadari bahwa warisan budaya masa lampau bukan sekedar berupa benda mati. Benda-benda warisan masa lampau itu haru diteliti, diamati, dan direnungkan, agar member manfaat bagikehidupan masa kini,
  4. menyadari bahwa benda-benda masa lampau merupakan penyaksian kembali sejarah dan keb├╝dayaan bangsa sendiri.
  • Kita harus bersikap hati-hati dalam menerima kebudayaan asing. Hal ini berarti kita harus memiliki sikap sebagai berikut.
  1. menyadari bahwa letak Indonesia pada posisi silang sehingga kontak dengan bangsa lain tidak dapat dihindari,
  2. mengetahui bahwa kontak antar-bangsa akan mengakibatkan kontak antarkebudayaan,
  3. menerima kenyataan bahwa pengaruh kebudayaan asing tidak dapat dihindari,
  4. memperkuat kebudayaan sendiri dan memperkuat kepribadian nasional,
  5. menghindari pengaruh negatif kebudayaan asing dan memupuk kemampuan masyarakat dalam menyaring dan menyerap nilai-nilai positif kebudayaan asing untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.
Sumber Pustaka: Yudhistira