Peran Pers Dan Peran Wanita Dalam Pergerakan Nasional

Peran Pers Dan Peran Wanita Dalam Pergerakan Nasional



Seiring dengan bangkitnya kesadaran nasional, maka pers, terutama majalah dan surat kabar, telah dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarluaskan cita-cita mencapai Indonesia merdeka. Selain itu, pers juga diusahakan sebagai alat untuk memperkuat cita-cita kesatuan dan persatuan bansa Indonesia. Pada masa pergerakan nasional, terbit surat kabar yang dikelola organisasi-organisasi pergerakan.
  1. Darmo Kondo dikelola oleh Budi Utomo.
  2. Majalah Utusan Hindia dikelola oleh Sarikat Islam.
  3. Indische Partij menerbitkan majalah Het Tijdschrift dan De Expres.
Munculnya beberapa surat kabar dan majalah di Indonesia mendorong pemerintah Hindia-Belanda untuk menghambat laju pengaruh pers. Dalam upaya mengawasi pers bumiputera, Belanda memanfaatkan Staatblad (Lembaran Negara) No.74 Tahun 1856. Dalam peraturan itu disebutkan bahwa bagi penerbit yang dianggap mengganggu ketertiban umum akan dikenakan pidana penjara selama 3 sampai 12 bulan. Namun, peraturan itu tidak menghentikan langkah cita-cita menyebarluaskan
Indonesia merdeka.



Para pemuda Indonesia di negeri Belanda tetap bersemangat menerbitkan majalah Indonesia Merdeka yang diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Belanda. Penulis artikel pada majalah tersebut tidak dicantumkan. Selain itu, penyebarannya juga dilakukan secara rahasia. Kendati demikian, majalah tersebut mempunyai banyak pelanggan, seperti para mahasiswa, pejabat pemerintah, wiraswasta, dan redaktur surat kabar. Mereka inilah yang kemudian meneruskan dan menyebarluaskan cita-cita persatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Peran Wanita Dalam Penggerak Nasional


Gerakan wanita yang berusaha memperjuangkan derajat dan emansipasi wanita muncul di masa pergerakan nasional. Tokoh yang dianggap perintis gerakan wanita Indonesia, yaitu R.A. Kartini dan R. Dewi Sartika. Perkumpulan wanita di masa itu antara lain adalah Perkumpulan Kartinifond (Semarang), Putri Mardika (Jakarta), Maju Kemuliaan (Bandung), Wanita Rukun Santoso (Malang), Budi Wanito (Solo), Kerajinan Amai Setiadi Kota Gadang, Serikat Kaum Ibu Sumatra (Bukittingi), ma Tuni (Ambon), dan sebagainya.

Organisasi wanita menerbitkan majalah, surat kabar, dan brosur yang menunjukkan bahwa wanita tidak ketinggalan dan gerakan pemuda. Surat kabar terkenal, antara lain Putri Hindia (Bandung), Wanito Sworo (Brebes), Sunting Melayu (Bukittingi), Istri Utania (Semarang), Suara Perempuan (Padang), Perempuan Bergerak (Medan), dan Putri Mardika (Jakarta). Sejalan dengan gerakan pemuda, pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang berhasil membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)

Sejak peristiwa itu, wanita Indonesia semakin menyadari betapa perlu meningkatkan martabatnya. Mereka pun terus berpartisipasi dalam perjuangan mencapai Indonesia merdeka. Peristiwa terbentuknya PPI pada 22 Desember dijadikan sebagai Han Ibu.
Sumber Pustaka: Yudhistira