Tokoh-Tokoh Pembaharu Di Prancis Pada Masa Revolusi

Tokoh-Tokoh Pembaharu Di Prancis


Pada pertengahan abad ke- 18 di Prancis muncul para penulis dan filsuf terkenal. Tulisan mereka banyak menyentuh kesalahan-kesalahan pemerintah lama, ketidakadilan sosial, dan parahnya kondisi keuangan negara. Gagasan tokoh-tokoh pembaharu dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat sehingga mendorong terjadinya perubahan besar di Prancis. Adapun tokoh-tokoh pembaharu yang terkenal di Prancis, antara lain Montesquieu, Voltaire, dan Jean Jaques Rousseau.



Montesquieu (1689—1755)


Tokoh ini amat dikenal karena menulis buku berjudul Lesprit des Lois (Jiwa Undang-undang) yang menerangkan sejarah undang-undang dan peraturan-peraturan pemerintah yang disertai kupasan tentang kebaikan dan kelemahannya. Inti buku tersebut menerangkan bahwa kekuasaan negara dibagi ke dalam tiga kekuasaan dan dikenal dengan sebutan trias politica yang meliputi:
  1. kekuasaan legislatif (kekuasaan membuat undang-undang),
  2. kekuasaan eksekutif (kekuasaan menjalankan undang-undang), dan
  3. kekuasaan yudikatif (kekuasaan mengawasi dan mengadili pelanggaran undang-undang).

Voltaire (1694-1778)


Voltaire mengecam peraturan-peraturan negara dengan pedas. Ia menyatakan bahwa pemerintahan Raja Louis XVI bukanlah sebuah pemerintahan yang demokratis, melainkan pemerintahan otokrasi yang bertumpu pada kekuasaan seorang raja. Raja menjalankan pemerintahan tidak untuk kepentingan rakyat. Oleh karena itu, Voltaire menyerukan untuk tidak menjalankan segala peraturan raja yang tidak masuk akal. Selain itu, ia mengecam golongan agama yang lebih mementingkan din sendiri.

Jean Jaques Rousseau (1712-1778)


Rousseau adalah seorang filsuf yang menulis buku berjudul Emile dan Du Contrat Social. Kedua buku ini menaruh perhatian besar terhadap pelaksanaan kedaulatan dan persamaan rakyat. Rousseau menganjurkan agar Prancis melaksanakan sistem pemerintahan demokrasi. Raja seharusnya menjalankan kekuasaan pemerintahan atas dasar kehendak rakyat. Atas gagasannya yang revolusioner itu, ia dianggap sebagai Bapak Demokrasi Modern.