Perhimpunan Indonesia Dan Ideologi Nasional

Perhimpunan Indonesia Dan Ideologi Nasional



Moh. Hatta dan sesama peinimpin Perhimpunan Indonesia lainnya sadar bahwa mahasiswa Indonesia di negeri Belanda merupakan kelompok intelektual elit baru di tanah air mereka. Oleh karena itu, mereka mengembangkan persepsi kuat tentang peran organisasinya di negeri Belanda dalam kerangka yang lebih luas dan gerakan nasionalis secara keseluruhan. Mereka berusaha menyadarkan para mahasiswa itu agar merasa din sebagai orang Indonesia dan bukan sebagai orang Jawa, Sunda, Minangkabau, dan lain-lain. Mereka menekankan kesatuan Indonesia dan yakin akan peranan pemuda untuk mencapai suatu bangsa yang merdeka dan bersatu.

Untuk mencapai kemerdekaan dan kesatuan bangsa Indonesia, para pemimpin Perhimpunan Indonesia mengembangkan suatu ideologi nasionalis baru yang khas Indonesia dan bebas dan batasan, Islam atau komunis. Ada empat pikiran pokok dalam ideologi yang dikembangkan oleh Perhimpunan Indonesia dan menjadi dasar arus utama gerakan nasionalis. Dengan memperkenalkan masalah sosial-ekonoini, ideologi Perhimpunan Indonesia menempatkan “Kemerdekaan” sebagai tujuan politik yang utama. Empat pikiran tersebut adalah sebagai berikut:



Untuk mencapai kesatuan nasional perlu dikesampingkan perbedaan khas yang bersifat kedaerahan dan membeniiik suatu front kesatuan melawan Belanda untuk menciptakan suatu negara kebangsaan Indonesia yang bersatu dan merdeka.

Untuk meningkatkan solidaritas perlu dihindarkan perbedaan antara orang Indonesia sendiri dan menyadari besarnya kepentingan antara penjajah dengan terjajah, dan perlunya kaum nasionalis mempertajam konflik ras kulit sawo matang dan ras kulit putih.

Penyadaran mengenai kemerdekaan yang tidak dapat diberikan secara cuma-cuma oleh Belanda, tetapi kemerdekaan harus direbut oleh bangsa Indonesia dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu mengindahkan dewan perwakilan yang didirikan oleh pihak kolonial seperti Volksraad.

Untuk mencapai swadaya rakyat, perlu menolong din sendiri dengan mengandalkan kekuatan sendiri, mengembangkan suatu alternatif struktur nasional, sosial-ekonomi, politik, dan hukum yang kuat dan berakar dalam masyarakat pribuini serta sejajar dengan pemerintah kolonial.

Pernyataan tentang ideologi Perhimpunan Indonesia yang terdiri dan empat gagasan itu disetujui pada bulan Januari 1925 dan dijadikan inti dan ideologi yang disebarluaskan oleh PNI sebagai berikut:

  1. Hanya satu kesatuan Indonesia dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit yang dapat menghancurkan kekuatan penjajah. Tujuan umum yaitu membentuk suatu negara Indonesia yang merdeka dan menuntut pembinaan rasa kebangsaan yang berdasarkan suatu aksi massa yang sadar dan percaya diri.
  2. Syarat mutlak untuk mencapai tujuan itu adalah partisipasi seluruh lapisan rakyat Indonesia dalam suatu peiuangan yang terpadu untuk mencapai kemerdekaan.
  3. Unsur yang pokok dan dominan dalam setiap problem politik penjajahan adalah konflik kepentingan antara penjajah dan yang dijajah, kecenderungan pihak penguasa untuk mengaburkan dan menutupi masalah. Hal ini harus dilawan dengan mempertajam dan mempertegas adanya konflik tersebut.
  4. Adanya dislokasi dan demoralisasi sebagai pengaruh dan pemerintah kolonial terhadap kesehatàn fisik dan psikis kehidupan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, diperlakukan sejumlah besar usaha untuk menormalkan kondisi fisik dan psikis.

Dalam mengembangkan ideologi, para mahasiswa terpengaruh oleh berbagai aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada awal tahun 1920-an, terutama kekuatan dan ide-ide Is1arxis, Leninis, dan Sosialis. Kecuali Semaun, seorang tokoh PKI yang dibuang dan Merupakan anggota Coinintern, yang kemudian bermukim di Amsterdam, hanya sedikit yang terlibat dengan Marxisme. Kebanyakan mahasiswa hanya terpengaruh oleh ide-ide Marxis-Lenjnjs. Di antara mereka adalah Hatta, Gatot Mangkupradja, dan Subardjo. Daya tank ide Marxis - Leninis terletak pada penjelasan kedua pencetus komunisme tentang situasi penjajahan dengan menggunakanfilsafat deterininisme his torisnya. Nam’un, pengaruh Marxis-Leimis pada mahasiswa Indonesia hanya merupakan pendorong suatu perjuangan ras, yaitu orang Indonesia berkulit sawo matang melawan Belanda berkulit putih atau orang Asia melawan orang Eropa.

Mahasiswa Indonesia di Belanda termasuk golongan elit tradisional Indonesia sehingga tidak mengherankan, apabila mereka tidak menganalisis masyarakatnya menurut kelas. Kesadaran akan kelas dalam masyarakat hanya terbatas pada kritik terhadap kaum priyayi yang bekeija sama dan membantu pemerintah Belanda di Indonsia.

Moh. Hatta sebagai anggota Perhimpunan Indonesia yang lebih memahami ide-ide Marxis dibandingkan anggota-anggota lainnya, telah berusaha menganalisis kelas dan masyarakat Indonesia. Upaya Moh. Hatta yang dilakukan sejak awal tahun 1920, 1928, dan 1929 menganjurkan pembinaan kesadaran kelas dalam masyarakat Indonesia. Tetapi doktrin Marxis (perjuangan antar kelas) tidak cocok dengan situasi Indonesia karena di dalam masyarakat Indonesia tidak ada konflik antarkelas dan yang ada hanya konflik bangsa Indonesia yang tertindas dengan pemerintah colonial sebagai penindas.

Gerakan Perhimpunan Indonesia semakin terpusat pada upaya menentukan nasib sendiri Usaha ini muncul dan semakin kuat setelah Woodrow Wilson (Presiden Amerika Serikat) memberi tekanan pada doktrin hak menentukan nasib sendiri (The Rights of Selfdeterinination) dalam Perjanjian Versailles (1918)

Dengan deinikian, melalui gerakan-gerakan dan perjuangannya, Perhimpunan Indonesia terhhat jelas melaksanakan ideologi nasional dengan menyatakan kemerdekaan Indonesia melalui hasil perjuangan untuk menentukan nasib sendiri.
Sumber Pustaka: Erlangga