Perhimpunan Indonesia Dan Kegiatan Politik Dalam Ilmu Sejarah

Perhimpunan Indonesia Dan Kegiatan Politik



Para mahasiswa Indonesia di Belanda secara teratur mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut mereka mengutuk kejahatan kolonialisme Belanda dan menuntut kemerdekaan Indonesia dengan segera. Mereka berusaha mengadakan kontak dengan orang-orang Belanda atau organisasi internasional yang menaruh simpati tentang perjuangannya. Dengan semangat yang berapi-api mereka berdebat tentang perkembangan Indonesia dan hari ke hari pada rapat-rapat anggota maupun rapat-rapat pengurus Perhimpunan Indonesia. Di samping itu, mereka mengadakan praktek-praktek terbuka menentang reaksi pemerintah Hindia Belanda terhadap gerakan nasional Indonesia. Pada waktu yang sama Perhimpunan Indonesia makin kecewa terhadap gerakan nasionalis di Indonesia. Alasannya, kegagalan konsentrasi radikal akibat sikap anggota Volksraad yang tidak lepas dengan tuntutan untuk lepas dan pemerintah Belanda. Akibatnya telladi perpecahan kekuatan karena banyak organisasi yang menonjolkan ciri-ciri khas masing-masing. Ini semua menimbulkan keprihatinan yang mendalam.

Para mahasiswa akhirnya memilih aksi politik. Mereka menganjurkan kepada mahasiswa angkatan pertama yang telah menyelesaikan studinya di Belanda dan pulang ke tanah air untuk bergabung dengan partai politik yang ada. Mereka diharapkan dapat menanamkan pengaruh dan membujuk agar kaum pergerakan di Indonesia menerima ide-ide Perhimpunan Indonesia.



Usaha-usaha pembujukan itu pertama-tama dilakukan oleh Sudjadi, Iskaq dalam Budi Utomo; Sukiman dalam Sarekat Islam; Konvensi Hatta-Semaun tahun 1926 atas nama Perhimpunan Indonesia dan PlC. Perjuangan mereka pada organisasi-organisasi pergerakan di Indonesia merupakan manifestasi dan strategi-strategi dalam peijuangannya mencapai Indonesia Merdeka. Sekitar pertengahan tahun 1926, strategi perjuangan para alumni Perbimpunan Indonesia telah menyerap masuk dalam Budi Utomo dan Sarekat Islam, ditambah oleh suatu usaha besar untuk mendorong alumni Perhimpunan Indonesia agar membentuk suatu organisasi yang baru menurut cita-cita Perhimpunan Indonesia dan bertujuan mengambil alih kepemimpinan gerakan kebangsaan di Indonesia. Melalui rencana dua arah liii diharapkan seluruh rencana nasionalis berubah menjadi radikal, tetapi tetap bertanggung jawab berdasarkan garis ideologi Perhimpunan Indonesia.

Perhimpunan Indonesia yakin bahwa bagian terpenting dan tugasnya adalah mengadakan propaganda nasionalis untuk disebarluaskan di Indonesia. Pada bulan Juni 1925 Perhimpunan Indonesia menugaskan Budiarto, Sartono dan Arnold Monomutu untuk menyiapkan dan menyebarluaskan propaganda Perbimpunan Indonesia di Belanda dan di Indonesia. Propaganda itu disebarluaskan melalui majalah Indonesia Merdeka di Belanda dan majalah-majalah serta buku-buku yang disebarluaskan di Indonesia oleh wakil-wakil, alumni dan simpatisan Perhimpunan Indonesia. Penghubung dan simpatisan Perhimpunan Indonesia di Indonesia adalah Sudjadi, seorang jurutulis Departemen Keuangan di Batavia. Pada tanggal 21 Januari 1926, Sudjadi secara resini ditunjuk sebagai wakil di Indonesia oleh pengurus Perhimpunan Indonesia.

Tugas utamanya adalah menyebarluaskan Indonesia Merdeka, mencari langganan dan mengatur distribusi dan mengirim informasi tentang situasi politik di Indonesia kepada Dewan Pengurus Perhimpunan Indonesia. Terutama kepada Hatta, ia mengadakan hubungan dekat dan bahkan Hatta mengangkatnya sebagai orang kepercayaannya. Hatta memberikan peran penting kepada Sudjadi dalam usaha Perhimpunan Indonesia membentuk gerakan nasionalis baru. Beberapa bukti yang diberikan oleh Sudjadi sangat mengecewakan Hatta, karena para alumni Perhimpunan Indonesia yang pulang ke Indonesia ternyata tidak aktif lagi dalam gerakan politik. Bahkan mereka lebih tertarik untuk membina karier dalam profesi mereka sendiri, sebagai ahli hukum atau dokter. Atau mereka tidak tertarik memasuki Sarekat Islam, PKI, Budi Utomo atau partai-partai lainnya. Sudjadi mendesak agar Hatta berusaha membujuk mereka untuk lebih berperan aktif dalam gerakan nasionalis itu. Sebagai salah satu cara untuk membuat mereka terlibat secara aktif di bidang politik, pada bulan April 1926 ia menyarankan agar Perhimpunan Indonesia menghentikan kegiatan-kegiatannya melalui organisasi —organisasi yang sudah ada dan membentuk suatu partai baru.


Hatta akhirnya mengusulkan pembentukan partai baru dengan nama National Indonesische yolks Partij (Partai Rakyat Nasional Indonesia). Keputusan untuk membentuk partai nasionalis baru di Indonesia tidak berarti bahwa Perhimpunan Indonesia telah meninggalkan usaha untuk mengubah ideologi dan partai-partai pohtik yang telah ada.
Sumber Pustaka: Erlangga