Perlawanan Rikyat Maluku Menentang Dominasi Asing

Perlawanan Rikyat Maluku Menentang Dominasi Asing



Kebrhasilan VOC menanamkan kekuasaannya di daerah Maluku menyebabkan rempah—rempah sebagai hasil utama dimonopoli oleh Kompeni Belanda. Rempah-rempah hams dijual kepada VOC. Harga ditentukan pihak VOC. Pengawasan terhadap penduduk diperketat dan tidak jarang menggunakan kekerasan. Karena tindakan-tindakan yang dilakukan oleh VOC ini, rakyat kehilangan mata pencahariannya dan tenggelam ke dalam kesengsaraan, penderitaan, dan kelaparan. Beban hidup yang cukup berat itu menimbulkan pemberontakan di kalangan rakyat. Rakyat ingin membebaskan din dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda.

Perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh rakyat di daerah Maluku ini mendapat dukungan dan berbagai kalangan seperti; Sebagai seorang sultan di Kerajaan Tidore, Sultan Nuku berusaha untuk meringankan beban rakyat dan penindasan pihak Kolonial Belanda. Untuk itu Sultan Nuku bertekad mengangkat senjata bersama rakyat melawan Belanda.



Dalam usaha mengusir Belanda, Sultan Nuku berhasil membina angkatan perang dengan inti kekuatannya adalah armada terdiri 200 buah kapal perang dan 6000 orang pasukan. Perjuangan ditempuh oleh Sultan Nuku melalui kekuatan senjata maupun politik diplomasi. Siasatnya itu berhasil, inisalnya terjadi perselisihan antara gubernur Ambon dengan gubernur Ternate. Di samping itu, Sultan Nuku mengadakan hubungan dengan Inggris dengan tujuan memberi bantuan dan dukungan untuk menghadapi Belanda di Maluku Utara. Siasat adu domba yang dilakukan Sultan Nuku terhadap Inggris dengan Belanda membuat Sultan Nuku dapat membebaskan kota Soa Siu dan kekuasaan Belanda (20 Juni 1801). Selanjutnya Maluku Utara berhasil dipersatukan’ di bawah kekuasaan Sultan Nuku (Tidore).

Perlawanan yang dilakukan oleh Thomas Matulesi (lebih dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura) diawali dengan penyerbuan terhadap benteng Belanda yang bemama Benteng Duurstede di Saparua. Dengan kegigihan rakyat Maluku di bawah pimpinan Kapitan Pattimura, akhimya Benteng Duurstede jatuh ke tangan rakyat. Residen Belanda terbunuh dalam pertempuran itu. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya. Kedudukan Belanda semakin terdesak. Akhirnya Belanda mengerahkan segenap kekuatannya untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku.

Pertempuran-pertempuran rakyat Maluku makin berkurang, setelah banyak di antara peinimpinnya ditangkap dan ditawan oleh Belanda. Kapitan Pattimura bersama beberapa orang kawannya tertangkap dalam suatu pertempuran. Pada tanggal 16 Desember 1817 Kapitan Pattimura dan kawan seperjuangannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan. Mereka gugur sebagai pahlawan rakyat yang tertindas oleh penjajah. Dalam perlawanan ini dikenal pula seorang tokoh wanita Martha Christina Tiahahu.
Sumber Pustaka: Erlangga